Semangat dan keceriaan dari wajah polos mereka. . . .

            Sabtu, 1 Februari 2014

Hari ini saya beruntung dapat mengunjungi Panti Asuhan Bina Siwi dan Yayasan Himmatu yang bertempat di Bantul. Berawal dari ajakan seorang teman dari Yayasan Taman Karunia, saya bersama Anik, Dian Yuanita, beserta beberapa pelatihnya di UKM Perisai Diri UGM, Mas Endro, Mas Rio, dan Mbak (aduh lupa namanya) berangkat dari gerbang utara Fakultas Kehutanan pada pukul 13.15 WIB. Cuaca sangat cerah. Langit yang biru menawan mengiringi sepanjang perjalanan kami. Alam menyuguhkan hamparan sawah hijau dan kebun yang berjejer, diselubungi langit yang bergantung kokoh diatasnya.

            Setelah melewati jalan yang panjang dan sempat tersesat, kami sampai pada tujuan. Setiba di Panti Asuhan Bina Siwi, kami disambut dengan wajah-wajah ceria dan tatapan mata yang teduh. Satu-persatu mereka menghampiri dan menyalami kami, sungguh sebuah sambutan yang hangat dan bersahabat.

Panti Asuhan Bina Siwi

Panti Asuhan yang beralamat di Kompleks Balai Desa Sendangsari Pajangan Bantul Yogyakarta 55751 merupakan bangunan sederhana yang menampung 25 orang berkebutuhan khusus dengan delapan pengasuh. Ibu Jumilah selaku inisiator pendirian pansuh ini mempersilakan kami masuk dengan ramah. Beliau menceritakan sedikit profil tentang Panti Asuhan Bina Siwi. Berawal dari keprihatinan Ibu Jumilah terhadap penyandang cacat yang terlunta-lunta di jalan, didukung dengan pendidikan yang beliau tempuh di Sekolah Guru Pendidikan Luar Biasa, bersama Ibu Yanti beliau mengadopsi beberapa anak yatim piatu berkebutuhan khusus yang mereka temui di jalanan.

Permasalahan yang dihadapi penghuni pansuh ini berbeda-beda. Ada Muryanti, seorang tuna wicara yang tertekan oleh pola asuh orang tuanya yang berkelainan mental. Ada pula Sari, seorang gadis korban bencana Merapi yang mengalami trauma, serta beberapa penyandang cacat fisik maupun mental yang “dibuang” oleh keluarganya (Sebenarnya saya tidak tega mengatakan mereka “cacat”).

Mereka tak bisa dididik dengan cara keras. Bahkan, dosen sepintar apapun takkan mampu “meracuni” mereka dengan ilmu teoritis jika tanpa kesabaran dan ketulusan. Seperti yang saya katakan sebelumnya, mereka adalah orang dengan kebutuhan khusus.

Ibu Jumilah mengantar kami untuk berkeliling ke ruang tidur, dapur, dan tempat kerajinan. Tidak ada kamar disini. Mereka tidur di lantai bersama-sama, ini karena ditakutkan ketika mereka mempunyai kamar sendiri akan terjadi hal yang tidak diinginkan.

Saya bertemu dengan seorang remaja bernama Erwin. Kedua tangannya tak dapat digunakan sebagaimana fungsinya.

Sejak pertama kali tinggal di pansuh ini, Erwin merupakan seorang penyendiri. Secara intelegensi dia normal, bahkan bisa berkomunikasi dengan baik. Namun, keadaannya yang terus menjadi bahan olokan membuat Erwin merasa malu. Hingga akhirnya datang beberapa mahasiswa dari Fakultas Teknik UGM menawarkan komputer khusus bagi tuna daksa. Seperti layaknya remaja yang jatuh cinta pada pandangan pertama, saat itu juga Erwin tertarik untuk belajar komputer, tentu dengan kedua kakinya. Bermodal semangat, ditambah dukungan dan kesabaran dari pengasuh, saat ini Erwin sudah mahir menjalankan beberapa aplikasi seperti corel draw, bahkan mampu menggambar dengan sangat rapi pada komputer kesayangannya.

Dia tak lagi merasa malu. Sekarang dia sudah mandiri, dia makan, minum, mencuci, bahkan memakai baju dengan kedua kakinya. Subhanallah, sekarang saya yang merasa sangat malu melihat semangat Erwin yang pentang menyerah. Saya yang diberi tubuh normal saja belum bisa mengoptimalkan fungsinya masing-masing. Oh!

Selain Erwin, saya menemui Putri, perempuan kecil penyandang bisu-tuli. Anak manis ini sangat mudah mengakrabkan diri dengan orang baru. Ibu Jumilah menceritakan bahwa disini juga ada anak autis, bahkan (maaf) idiot. Saat itu, saya juga bertemu seorang berumur 40 tahun, namun masih harus dimandikan, disuapi, dan perlakuan lain layaknya bayi. Dia pun menangis ketika merasa kurang diperhatikan. Kesabaran para pengasuh disini benar-benar luar biasa.

Di pansuh ini, disamping pelajaran yang mereka terima di Sekolah Luar Biasa (SLB), ada pula pelajaran keterampilan seperti membatik, menjahit, merajut, membuat souvenir pernikahan, membuat keset, dan ah, banyak sekali. Ibu Jumilah menunjukkan kepada kami beberapa orang sedang membuat keset. Mereka begitu konsentrasi dengan apa yang mereka kerjakan, bahkan lebih dari kita mungkin. Hasilnya sangat rapi dan cantik, karena mereka tidak memikirkan hal lain, begitu kata Ibu Jumilah.

Diruang tengah, kami diperlihatkan hasil karya mereka. Sudah ada label harga disitu. Beberapa kain batik tergantung dengan motif dan corak yang sangat rapi. Kau pasti tidak akan percaya bahwa mereka yang membuatnya, dengan cara tradisional pula. Disampingnya ada rak kaca berisi beberapa boneka dari kain flannel berbentuk sepasang manusia dengan berbagai macam pakaian adat, ada pula berbagai macam pakaian dengan style jaman sekarang namun tidak menerawang dan tidak ketat. Cantik sekali.


           Batik tulis buatan anak asuh Bina Siwi

Saya melirik beberapa bross dan jepit rambut yang tergantung disitu. Sungguh cantik. Dan ternyata boleh dibeli! Saya mendapatkan tiga jepit rambut dan satu bross dengan harga Rp 10.000,00. Mas Endro membeli keset seharga Rp 25.000,00. Di rak bawah, ada beberapa asesoris yang terbungkus dengan rapi. Ternyata itu adalah pesanan dari beberapa toko souvenir besar di sekitar Bantul. Pansuh ini sudah sering menerima pesanan dalam jumlah besar, dan mereka mampu mengerjakan 500 buah souvenir dalam waktu satu hari tiap orang. How fantastic! Aku semakin malu dengan mereka.

Allah menunjukkan keadilan dan kebesaran-Nya lewat orang-orang yang  saya temui hari ini. Saya yang diberi fisik normal seringkali mengeluh dan tak pandai bersyukur. Tetapi mereka yang mempunyai keterbatasan justru mampu melakukan lebih dari saya yang diberi kelengkapan anggota badan.

Selain membuat kerajinan, mereka belajar musik, menari, drama, menyanyi, membaca puisi, dan keterampilan lain. Bahkan mereka sering mendapat undangan untuk mengisi pementasan hiburan, di waktu senggang mereka diajak  menunggu toko dan menjual bensin, tentu dengan pendampingan.

Yaa Allah, saya melihat pada wajah mereka sebuah ketulusan, juga kepolosan dalam bertingkah. Mereka, kurasa mempunyai tingkat kejujuran yang tinggi. Mereka hidup dengan kesederhanaan, sama sekali tak haus jabatan dan pujian. Tidak seperti manusia-manusia bertopeng yang hanya sibuk mengejar keduniawian. Saya iri dengan kemurnian hari mereka. Juga kebebasan mereka.

Hah, rasanya saya tak mau meninggalkan tempat ini. Melihat mereka, sedikit membuka hati saya yang selama ini nampaknya terkunci, tapi adik-adik di Yayasan Himmatu (Himpunan Muslim Mandiri Aktif Insya Allah jadi Tumpuan Umat) Bambanglipuro sudah menanti. Segera kami berpamitan dan melanjutkan perjalanan.

Tiba di Yayasan Himmatu, tepat waktu ashar. Kami juga mendapat sambutan baik disini. Mungkin pengasuh yayasan tahu kami lapar, mereka menyuguhkan oleh-oleh dari teman-teman Ikatan Muslim Tionghoa (IMTI) yang datang sebelum kami.

Anak-anak mulai berdatangan. Ada sekitar 40 anak mulai dari TK sampai SMP kelas 2 di yayasan ini. Seorang akhwat bernama Zanis membuka acara dan dilanjutkan dengan muroja’ah hafalan Surat Al Baqarah: 26-56. Hah?! Subhanallah, saya semakin malu melihat anak-anak ini. Bacaan mereka lembut sekali, dan saya hanya bisa mendengarkan (Haiya, juz 30 saja saya belum khatam #resah). Seumur mereka saya belum mengenal bahkan menghafal Al Quran, mungkin baru Iqro jilid 1. Jujur saja saya sedikit iri melihat mereka dengan umur sedini ini mendapatkan ilmu agama yang mantab. Jika saya tengok diri saya kembali, ah, saya begitu tertinggal jauuuuuh sekali. Tapi saya juga senang melihat antusiasme mereka, seolah tatapan mereka berkata, “Ayo Mbak Intan semangat belajar! Masak Mbak kalah dengan kami”. #menunduk

Selesai muroja’ah, Dian mengisi acara dengan menampilkan presentasi Bagaimana Menulis Puisi dan menari “Poki-Poki”.
***
            Selalu ada hikmah dibalik setiap peristiwa. Tak ada peristiwa yang terjadi secara kebetulan. Saya sering menemui permasalahan hingga membuat saya terlalu larut dalam penyesalan. Dari sini saya mendapatkan banyak pelajaran dan motivasi baru untuk terus bersemangat, walau apapun yang terjadi. Jazakillah khair engkau yang telah mengajak saya.

Hum, saya mendapatkan semangat baru dari banyak sumber hari ini. Pagi sebelumnya, Mbak Ika (sudah saya anggap kakak sendiri) sudi menyempatkan diri untuk main kerumah, walau sempat nyasar jauh. Saya senang ada teman yang mau datang kerumah, tapi saya menyesal tak bisa memuliakan mereka. Saya takut. Tapi karena saya menyayangi mereka (Hah, sudah sudah! skip!)


Pulang dari Bantul kehujanan deras sekali. Ah, penglihatan saya agak terganggu. Apalagi helm yang saya pakai tidak bisa menyelamatkan wajah saya dari tumpahan air hujan. Tapi kondisi saya sudah basah kuyup, sudah masuk waktu maghrib pula. Harus cepat-cepat sampai rumah. Allahuma shayyiban nafi’a.

Sampai rumah. . . .

Oh tidak! Cucianku yang seabrek itu kehujanan. Harus mencuci ulang.

#lemas

Komentar

Postingan Populer