Mengenal Bambu



Siapa yang tak mengenal tanaman bambu? “Rumput Raksasa” ini menjadi saksi perjalanan panjang dalam menyongsong kemerdekaan tanah air, Indonesia. Kobaran semangat para pahlawan memerangi penjajahan membuat bambu runcing di tangan selayak pedang. Tak perlu peluru, cukup dengan bambu. Begitulah generasi terdahulu.

Bagaimana dengan generasi sekarang? Ah, nampaknya mereka tak lagi mengenal perang, tak ada lagi penjajahan, dan modernisasi perlahan menenggelamkan kebudayaan. Keadaan ini tak lantas menenggelamkan eksistensi bambu. Ia tetap bertahan menjadi salah satu primadona masyarakat Indonesia, tak mengenal miskin dan kaya. Bagaimana tidak? Teman akrab Pramuka ini sangat mudah dijumpai meski dalam rupa yang berbeda. Ia menjelma menjadi jembatan, perabotan, alat kesenian, sampai hiasan di meja makan.

Sebelum menjadi barang-barang diatas, pernahkah menyaksikan bambu dalam keadaan masih tegak tertanam? Jika dicermati, secara fisik antara satu rumpun bambu dengan rumpun yang lain meski berdekatan bisa jadi berbeda macam. Sebagai contoh, bambu-bambu kecil yang sering ditanam sebagai pagar hidup di beberapa restoran, tentu berbeda dengan rumpun bambu yang ditanam di kebun-kebun pedesaan. Itu hanya dua dari sekian banyak bambu. Apakah cukup dua macam itu? Untuk tahu lebih jauh, mari kita berkenalan dengan bambu.

Bambu secara sistematika, berada pada suku yang sama dengan rumput-rumput kecil di taman, yaitu Graminae. Ada sekitar 1250 jenis bambu di dunia (Charomaini, 2014), 143 jenis bambu diantaranya ditemukan di Indonesia (Nugraha, Rudijata Tjahja. 2011). Tulisan ini akan sangat panjang jika untuk menguraikan seluruh jenis bambu satu persatu, maka diambil dua jenis bambu yang sudah akrab dengan masyarakat, yaitu bambu ampel gading (Bambusa vulgaris Schrad. Ex Wendi, var stricta) dan bambu apus (Gigantochloa apus (J. A. & J. H. Schult) Kurz).

Mari kita uraikan satu-persatu. Sebelum merangkak pada pembahasan yang lebih jauh, kita perlu pelajari tentang morfologi bambu, yaitu dapat dilihat pada karakteristik: akar rimpang yang terdapat dibawah tanah dan membentuk sistem percabangan. Batang berupa buluh yang  terdiri atas ruas dan buku–buku. Pelepah buluh merupakan hasil modifikasi daun yang menempel pada setiap ruas, yang terdiri dari daun pelepah buluh, kuping pelepah buluh, dan ligula. Percabangan umumnya terdapat pada nodus. Helaian daun bambu mempunyai urat daun yang sejajar. Helaian daun dihubungkan dengan pelepah oleh tangkai daun. Pelepah daun dilengkapi oleh kuping pelepah dan ligula (Widjaya, 2001b dalam Yani, 2012)

Sudah bisa membayangkan? Baik, mari berkenalan dengan bambu ampel gading. Bambu ini dicirikan oleh rumpun simpodial, tegak dan tidak terlalu rapat. Rebung berwarna hijau, tertutup oleh bulu coklat kehitaman. Tinggi mencapai 10-20 meter (Hartanti, 2010), agak berbiku-biku dengan diameter 5,4-7,5 mm, pajang ruas 24-28 cm dan tebal buluh mencapai 7-15 mm. Buluh muda berwarna kuning bergaris-garis hijau. Percabangan muncul 1,5 m dari permukaan tanah (Sujarwo dkk., 2010). Secara umum, Bambusa vulgaris mudah dikenali dari buluh mudanya yang muncul secara berselang-seling membentuk susunan seperti kipas raksasa (Noverita, 2009).

Dahulu, masyarakat menanam bambu ampel gading sebagai tanaman hias di pojok rumah, atau sebagai penolak bala. Kini, jenis bambu ini ramai ditanam oleh para petani karena rimpang dan akarnya mahal, rebungnya mengandung protein dan kalsium yang lebih tinggi, yaitu (2,1 dan 28 mg) dibanding Cendawan (1,9 dan 17 mg) dan Asparagus (0,1 dan 10 mg). Rebung bambu ampel gading menjadi olahan yang lezat disantap sebagai isi Lumpia Semarang (Charomaini, 2014). Air rebusan rebung muda dimanfaatkan untuk mengobati penyakit hepatitis A, sedangkan buluh dewasa sering digunakan untuk industri, mebel, bangunan, perlengkapan perahu, pagar, tiang bangunan, dan bahan baku kertas (Hartanti, 2010). Kulit batangnya digunakan untuk membersihkan luka (Sada, 2010). Akarnya untuk mengobati sakit kuning (Meliki, 2013). Daun muda yang masih menggulung dapat digunakan sebagai pengganti teh untuk menurunkan kolesterol (Maryanto, 2013).

Di sisi lingkungan, struktur akarnya mampu mengawetkan tanah dan mencegah erosi, maka tidak heran jika bambu jenis ini mudah dijumpai pada tepi-tepi sungai sebagai bagian dari konservasi air. Berdasarkan penelitian Nasrullah, dkk (2000) dalam Santoso (2012), Ia mampu menyerap NO2 sebesar 25,33 μg/g, jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan Polyaltia longifolia (Glodogan tiang) yang sering ditanam di tepi-tepi jalan, yaitu hanya 3,61 μg/g. Karakter khusus tanaman yang mempunyai kemampuan tinggi mengurangi polutan partikel dalam udara adalah yang memiliki struktur daun berbulu halus, permukaan kasar, bersisik, tepi bergerigi, dan permukaannya bersifat lengket. Karakter tersebut dimiliki oleh jenis Bambusa vulgaris pada umumnya. Bambu jenis ini mampu tumbuh dengan cepat, dan baik digunakan untuk reklamasi. Di Semenanjung Malaysia, beberapa varietas Bambusa vulgaris tetap dapat tumbuh baik di lahan-lahan terdegradasi yang mengandung timah (Anonim, 2016 via proseanet).

Jika hendak menanam bambu ampel gading, jenis ini tumbuh paling baik pada dataran rendah, namun masih bisa tumbuh dengan baik  hingga ketinggian 1200 mdpl. Utami (1995) dalam Noverita (2009) menyebutkan bahwa Bambusa vulgaris yang hidup pada ketinggian diatas 1000 mdpl buluhnya menjadi lebih pendek dan diameter menjadi lebih kecil. Ia mampu tumbuh pada tanah marjinal atau sepanjang sungai dan tergenang dengan pH 5-6,5 (Hartanti, 2010). Perlu diperhatikan bahwa tunas bambu sering terserang oleh hama uret (Helicorpa spp.). Hama ini menyerang rebung pada saat musim hujan, menyebabkan rebung banyak yang mati. Budidaya Bambu Ampel nampaknya dapat mendatangkan keuntungan yang cukup besar. Masa tanamnya pendek (3-5 tahun) dan pemeliharaannya tidak membutuhkan perlakuan khusus. (Widiarti, 2013). Selain untuk produksi, pengusaha bambu jenis ini berjasa bagi kelestarian lingkungan.

Masih ada banyak informasi tentang bambu ampel gading yang belum terungkap dalam tulisan ini, namun informasi pendek diatas nampaknya cukup untuk mengenal sekilas tentang bambu jenis tersebut. Baik, mari kita beralih pada bambu apus. Bambu jenis ini dicirikan oleh rumpunnya yang rapat, tegak, dan simpodial. Rebung berwarna hijau, tertutup bulu coklat kehitaman. Tinggi mencapai 8-30 meter (Hartanti, 2010), lurus, dengan panjang ruas 38-43 cm, diameter 7,2-8,5 cm, dan tebal mencapai kurang lebih 15 mm. Buluh muda tertutup bulu coklat yang tersebar, bulu luruh ketika buluh sudah tua dan berwarna hijau. Percabangan mulai muncul kurang lebih 1 m diatas permukaan tanah, terdiri atas 6-9 cabang, satu cabang lateral lebih besar daripada cabang lainnya, ujung buluh melengkung. Pelepah buluh tidak mudah luruh, tertutup bulu hitam kecoklatan, kuping pelepah buluh seperti bingkai, tinggi 1-3 mm dengan panjang bulu kejur mencapai 7 mm, ligula rata, tinggi 2-4 mm dan gundul. Daun pelepah buluh berkeluk balik, menyegetiga dengan pangkal yang sempit. Daun berukuran 13-49 x 2-9 cm, bagian bawah permukaan daun agak berbulu. Kuping pelepah daun kecil dan membulat, tinggi 1-2 mm dan gundul (Sujarwo dkk., 2010).

Bambu ini lebih banyak digunakan sebagai bahan kerajinan, bangunan, serta industri pulp dan kertas. Ia sangat baik sebagai bahan baku anyaman (Setijati`, 1980 dalam Pasadena, 2012). Pada beberapa bangunan di Jawa, bambu apus menjadi bahan bangunan (dinding, lantai, dan langit-langit), keranjang tradisional, dan kerajinan tangan (Mahdie, 2007). Di sebuah pabrik di Karawang, jenis bambu ini digunakan sebagai bahan baku papan partikel yang sampai saat ini berada pada tingkat konsumsi yang cukup tinggi (Widiyanto, 2011). Melihat kelangkaan kayu sebagai bahan konstruksi, bambu apus memiliki peluang yang besar sebagai salah satu alternatif penggantinya.

Tempat tumbuhnya di dataran rendah, dataran tinggi (atau berbukit-bukit) sampai dengan 1.500 m, bahkan juga dapat tumbuh di tanah liat berpasir. Manfaatnya adalah biasa digunakan sebagai tanaman pagar penghias. Batangnya juga dapat dipakai sebagai alat pembuatan pegangan payung, peralatan memancing, kerajinan tangan (rak buku), industri pulp dan kertas, dan penghalau angin kencang (wind-break) (Hartanti, 2010). Hampir seluruh bagian dari bambu ini mempunyai nilai ekonomi yang tinggi, rebung bambu sebagai bahan obat-obatan dan makanan, akarnya digunakan sebagai obat 
tradisional, daun bambu apus  mengandung anti-diarrhea yang mempuyai cara kerja menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli, selama ini diaplikasikan pada babi, kelinci, unggas, dan sapi (Mulyono, 2013).

Jika ingin membudidayakan bambu ini, keberhasilan stek batang dapat mencapai 80% (Charomaini, 2002 dalam Charomaini, 2014). Terbukti bahwa setiap jenis berbeda hasil persen berakar steknya. Penggunaan hormon penumbuh akar dan hormon perangsang pertumbuhan lain terkadang tidak memberikan hasil sehingga perlu penelitian intensif dalam penggunaan hormon dan bahan perangsang pertumbuhan lain. Saefudin dkk. (2003) dalam Charomaini (2014) membuktikan bahwa penggunaan hormon akar tidak berpengaruh pada keberhasilan pengakaran. Bambu apus relatif tahan terhadap serangan bubuk, meski pernah dijumpai kasus serangan bubuk oleh Dinoderus sp., namun ia sangat rentan terhadap serangan rayap kering Cryptotermes cynocephalus (Andalusia, 1984 dalam Noverita, 2009).

Nah, kita sudah berkenalan dengan dua jenis bambu, si “Rumput Raksasa” yang menjadi saksi perjalanan panjang dalam menyongsong kemerdekaan tanah air, Indonesia. Tertarik untuk menjadi pengusaha bambu? Next time kita bisa berkenalan dengan jenis yang lain, insya Allah. Semoga bermanfaat.

Daftar pustaka dan sumber gambar:
Charomaini. 2014. Budidaya Bambu Jenis Komersial. IPB Press Printing. Bogor
Hartanti, Grace. 2010. Keberadaan Material Bambu Sebagai Subtitusi Material Kayu Pada Penerapan Desain Interior dan Arsitektur. Humaniora Vol.1 No.1 April 2010: 11-19
Mahdie, Muhammad Faisal dan Andy Rinaldi. Pengaruh Pola Susunan Laminasi Balok Bambu Tal (Gigantochoal apus Kurz) terhadap Kerapatan, Delaminasi dan Keteguhan Patah. Jurnal Ilmu Kehutanan Volume 1 No. 2 – Juli 2007
Maryanto, Ibnu; Joeni Setijo Rahajoe; Sasa Sofyan Munawar, Wahyu Dwiyanto; Djauhar Asikin; Siti Roosita Ariati; Yopi Sunarya dan Dwi Susiloningsih. 2013. Bioresources untuk Pembangunan Ekonomi Hijau. LIPI Press, anggota Ikapi. Jakarta
Meliki, Riza Linda, dan Irwan Lovadi. Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Suku Dayak Iban Desa Tanjung Sari Kecamatan Ketungau Tengah Kabupaten Sintang. Protobiont 2013 Vol 2 (3): 129 – 135
Mulyono, Noryawati; Bibiana Widiyati; Laura Ocktreya; dan Sri Rahayu. 2013. Antidiarrheal Activity Of Apus Bamboo (Gigantochloa Apus) Leaf Extract and Its Bioactive Compounds . American Journal of Microbiology 4 (1): 1-8, 2013 ISSN: 1948-982x
Noverita.2009. Tingkat Degradasi Bambu Kuning (Bambusa Vulgaris Schard Var. Vitata) dan Bambu Hijau (Bambusa Vulgaris Schard Var.Vulgaris) Oleh Jamur. Vis Vitalis, Vol. 02 No. 1, Maret 2009 ISSN 1978-9513
Nugraha, Rudijata Tjahja. 2011. Seri Buku Informasi dan Potensi Pengelolaan Bambu Taman Nasional Alas Purwo. Balai Taman Nasional Alas Purwo. Banyuwangi
Pasadena, Reza Erwinda. 2012. Mebel Bambu Produksi Tekun Jaya Muda di Desa Sendari Mlati Sleman. Skripsi: Tidak dipublikasikan
Sada, Janet dan Royse H. R. Tanjung. 2010.  Keragaman Tumbuhan Obat Tradisional di Kampung Nansfori Distrik Supiori Utara, Kabupaten Supiori–Papua. Jurnal Biologi Papua ISSN: 2086-3314 Volume 2, Nomor 2 Oktober 2010 Halaman: 39-46
Santoso, Suci Normalia. 2012. Plant Application as  Reducer Air Pollution: Undergraduate paper. Tidak dipublikasikan.
Sujarwo, Wawan; Ida Bagus Ketut Arinasa, dan I Nyoman Peneng. 2010. Inventarisasi Jenis-Jenis Bambu yang Berpotensi Sebagai Obat di Kabupaten Karangasem Bali. Buletin Kebun Raya Vol. 13 no. 1, Januari 2010
Widiarti, Asamah. 2013. Pengusahaan Rebung Bambu Oleh Masyarakat, Studi Kasus di Kabupaten Demak dan Wonosobo. Jurnal Penelitian hutan dan konservasi alam Vol. 10 No. 1, April 2013 : 51-61
Widiyanto, Ary. 2011. Kualitas Papan Partikel Kayu Karet (Hevea Brasiliensis Muell. Arg) dan Bambu Tali ( Gigantochloa Apus Kurz) Dengan Perekat Likuida Kayu.Jurnal Penelitian Hasil Hutan Vol. 29 No. 4, Desember 2011: 301-311
Yani, Ariefa primair. 2012. Keanekaragaman Dan Populasi Bambu Di Desa Talang Pauh Bengkulu Tengah. Jurnal Exacta, Vol. X No. 1 Juni 2012 ISSN 1412-3617


Komentar

Postingan Populer