Sabtu pagi
8 Februari 2014
Hari ini seperti biasa, aku mendatangi KRPH (Kajian Rutin Pagi Hari) di Masjid Marddliyah UGM Yogyakarta. Yaa, karena memang sebelumnya aku juga ada janji untuk bertemu dengan Early. Aku mengabarinya bahwa bulekku akan dioperasi 3 hari lagi, maka ia meminjamkanku sebuah buku kecil tentang cara meruqiyah.
***
Tema kajian hari ini adalah tafsir surat Al Kawtsar. Aku terlambat sehingga tidak mengikuti dari awal. Bahasan ketika aku datang adalah tentang Birrul walidain. Siapa orang pertama yang harus kau cintai setelah Rasulullah? Jawabannya kau tahu lah pasti. Ibu. Bahkan, ibu disebutkan 3 kali sebelum ayah. Hem, aku jadi ingat, waktu pertama kali aku menerima gaji hasil part-timeku sebelum kuliah dulu justru kuhabiskan untuk membeli keperluan PPSMB. Ibu terlupakan. Padahal ibu selalu menungguku pulang, merawatku ketika aku sakit, dan mengkhawatirkan keadaanku. Ibu memang tak pernah meminta balasan apapun dariku, tapi apakah aku pantas berbuat begitu?
Seiring berjalannya waktu, menginjak semester 3 aku menjadi co. ass praktikum Fitogeografi Pohon. Aku ingin memperdalam ilmuku disitu, bonus yang kudapat adalah honor sebesar Rp 150.000,00. Kuhabiskan untuk membeli keperluan kuliah. Lagi-lagi ibuku terlupakan, aku tak memberitahu beliau bahwa aku sudah menerima honor. Oh my, apakah ini caraku bersyukur?
Selama ini aku selalu mengeluhkan hal-hal kecil yang kurasa tak adil bagiku, tapi aku lupa kebaikan besar ibu. Maafkan anakmu ini ibu. Bagaimanapun cara ibu membesarkanku, ibu pasti ingin yang terbaik bagiku. Terlebih aku adalah satu-satunya yang bisa sampai bangku kuliah. Aku merasa bahwa selama ini aku selalu menyalahkan keadaan tanpa melihat diriku sendiri. Rasanya aku ingin cepat bekerja dan membawakan gaji pertamaku untuk ibu. Tunggu aku ibu!
Aku juga merasa bersalah karena selama ini aku justru lebih dekat dengan Pakde dan menayakan solusi dari segala permasalahanku dengan Pakde, bukan Ibu. Dari sini aku belajar bahwa bagaimanapun kau ibu, aku akan selalu memberikan yang terbaik untukmu. Meski aku harus kehilangan waktu tidurku, melupakan segala kelelahanku. Itu tak cukup untuk membalas semua kebaikan dan kesabaranmu merawatku.
Ibu.

Komentar
Posting Komentar