One day with Pakde
2
Februari 2014
Happy
Sunday :D !!
Hari
ini temanya “One Day with Pakde”
Pukul 04.31 WIB, seseorang mengetuk pintu rumahku.
Hah, itu pasti Pakde. Dan benar! Aku memang sudah ada janji dengan Pakde untuk
bersepedaan pagi ini, tapi ya tidak sepagi ini juga kan?
***
Pakde memang sosok yang paling dekat
denganku. Yah, beliau memperlakukan aku seperti putrinya sendiri, bukan sekedar
keponakan. Wajar saja, dirumah beliau hanya ada satu perempuan. Siapa lagi
kalau bukan Bude.
Aku pun merasa mendapatkan perhatian
yang lebih justru dari Pakde. Padahal kami sama sekali tidak ada hubungan
darah. Beliau adalah suami dari kakak ibuku. Kedua orang tuaku selalu sibuk
bekerja sehingga hampir setiap hari aku dirumah sendirian. Maka Pakde sering
mengunjungiku ketika pulang dari sawah. Bahkan, setiap kali mendapatkan rejeki
beliau tak pernah lupa untuk menyisihkannya untukku.
***
Pagi itu, sesudah shubuh kami
bersepedaan melewati Jalan Candi Sewu, lalu kearah Jembatan Tulung. Langit
masih gelap.
Ditengah jalan, aku merasa ban sepedaku
kempis. Maka kami mampir ke tempat Mbah Mar untuk meminjam pompa, karena memang
waktu itu kami lewat didepan rumah beliau. Ah, sebenarnya aku agak sungkan
memanggil beliau “Mbah” Mar, beliau masih muda! Dan aku harus memanggil
putranya yang masih kelas satu SMA itu dengan sebutan “Paman”.
***
Masalah ban beres, kami melanjutkan
perjalanan menuju pelataran Ramayana. Kalau Lembah UGM punya “SUNMOR”,
Prambanan juga punya. Ya di pelataran Ramayana ini, berbagai asesoris, jajanan,
menu sarapan semua ada. Dan kalau di sunmor kalian harus berdesak-desakan,
disini tidak. Pelataran Ramayana cukup luas untuk bersepeda, jogging, atau sekedar jalan-jalan. Menu
sarapan kami kali ini adalah soto ayam, lesehan di pinggir jalan. Hah, aku
seperti anak kecil yang sedang bermain bersama ayahnya, bahagia sekali. Padahal
cuma makan soto. Hehe :P
Selesai dengan urusan perut, kami
kembali kerumah, dan tiba pada pukul 06.56 WIB. Aku sebenarnya masih mengantuk,
karena semalam aku tidur sangat larut. Tapi hem, lagi-lagi Pakde memintaku
mengantarkan beliau ke tempat saudaranya di Gunungkidul pukul 09.00 WIB. Aku
ingin segera mandi, tapi bantal dan guling kamarku melambaiku untuk berbaring.
***
Pukul 08.30 WIB Pakde datang. Aduh,
Pakde ini. Aku ketiduran, belum mandi pula. Segera aku bergegas mandi dan
mengambil pakaian seadanya. Rok hitam, baju biru tua, kerudung abu-abu. Huh,
payah kali kostumku ini.
Baiklah, kami berangkat pukul 09.00
WIB. Melaju melewati Jalan Prambanan-Piyungan. Ditengah perjalanan, di daerah
Pathuk ada razia kendaraan bermotor. Aaa, aku senang. Akhirnya SIM-ku berguna
juga. Haha :D
Ini adalah kali pertama aku ke
Gunungkidul mengendarai motor. Agak takut juga karena baru dua tahun yang lalu
aku belajar mengendarai motor. Apalagi jalan di Gunungkidul naik-turun begitu,
banyak tikungan tajam pula. Tapi kepercayaan Pakde padaku seolah memupuk
kepercayaan diriku. Iwyuh!
Awalnya aku pikir hanya sekitar
Pathuk. Ternyata, melewati Alas Gading. Ini mah tempat dulu aku praktikum
lapangan Ilmu Tanah Hutan. Itu pun masih jauh. Yaampun, aku tak percaya bisa
sampai disini. Naik motor, bawa orang pula. (hehe)
Pakde mengomando hingga akhirnya
kami sampai pada tempat yang dituju. Pakde Pardi namanya. Bertempat tinggal
disamping SMK Pelayaran dekat Kantor Bulog Gunungkidul. Pakde Pardi masih di
hutan kala itu, maka kami hanya bertemu dengan istri dan anak beliau. Kami
disambut dengan bersahabat. Pakde memperkenalkanku sebagai putrinya, bukan
keponakan. Begitulah Pakde, semua orang yang dikenal baik dekat maupun jauh
diperlakukan sebagai saudara.
Kali ini, Mbak Siwi namanya,
kesehariannya sibuk dengan warung soto disamping rumah. Kelihatannya sangat
laris. Kapan-kapan kalau kesini lagi aku ingin mencoba. Kami dijamu dengan teh
hangat dan kue mangkok. Sejujurnya aku tak begitu suka minum teh, itu membuat
tenggorokanku gatal. Begitu kuhabiskan malah diberi lagi. Hah, lain kali lebih
baik aku jujur saja.
Pakde dan pemilik rumah asyik sekali
berbincang, seolah saling menumpahkan kerinduan karena lama tak bertemu. Tapi mereka
juga mempunyai kesibukan, maka tak bisa berbincang lama-lama. Mbak Siwi dan
ibunya mengantar makanan ke hutan untuk Pakde Pardi. Lantas Pakde mengajakku
menuju dapur dan mengambil makanan. Hah, Pakde ini. Seperti kebiasaannya di
rumahku, sering nyelonong gitu aja di rumah orang. Tapi pemilik rumah sudah
mempersilakan, menu waktu itu adalah tahu goring dan sambal kacang.
Di belakang rumah ada tiga ekor
sapi. Dan jinak! Satu sapi masih kecil, berumur sekitar 5 bulan, dan dibiarkan
diluar kandang. Sementara kedua sapi lainnya didalam kandang. Aiya, aku
mengelus kepalanya. Sapi-sapi itu tak menggigit. Kalau saja ini milikku, akan
kutunggangi.
Puas bermain dengan sapi, Pakde
mengajakku kerumah saudaranya yang lain. Hanya berjarak beberapa ratus meter
dari rumah Pakde Pardi.
Sepertinya baru saja hujan, tanah
disini lembek sekali. Sandalku jadi tinggi karena “nyeblok” lempung. Sementara
Pakde asyik ngobrol, aku bermain di
sawah samping rumah. Ada banyak tanaman disitu. Padi, ketela, kacang, dan
dipagari Gliricidia.
Tiba waktu dzuhur, kami kembali ke
rumah Pakde Pardi. Ada masjid disampingnya, tapi sepi sekali. Tidak ada
kumandang adzan, kukelilingi kesana-kemari tidak ada kamar mandi. Ah, aku
sholat di rumah Pakde Pardi saja. Yang kuherankan adalah,
disini sepi adzan. Kemana para lelaki (eh ikhwan)
ini pergi?
Pakde Pardi masih belum pulang, maka
kami mengunjungi teman lama Pakde, Bu Jumi namanya. Kedatangan kami disambut
oleh anjing berbulu lebat berwarna coklat. Lucu sekali, coba kalau dia kucing.
Kubawa pulang :P
Pakde menumpahkan kerinduannya
kembali. Aku bingung harus berbuat apa, yasudah hanya memandangi anjing yang
tiduran disitu. Lucu. Ingin sekali aku mengelusnya. Ah, anjing.
Selama duduk diruang tamu Bu Jumi.
Entah hanya perasaanku saja, menantunya menatapku dengan pandangan aneh. Agak
menyeramkan. Aku agak takut sebenarnya, namun aku mencoba memulai pembicaraan,
“Itu anjing jenis apa Pak?”. Beliau menjawab,”Wah, yo ndak tahu Nduk. Jenis
apapun yang penting bisa jaga rumah”. Bu Jumi menyambung, “Biasanya dia
(menunjuk si anjing) kalau melihat orang pake kerudung pasti menggonggong
berisik sekali, kok sekarang diam saja ya?”. “Iyalah, saya kan orang baik Buk
:P”, batinku. Kurasa tatapan tajam bapak itu ada hubungannya dengan ini. Entah bermulai
dari apa, mereka sedikit menyinggung salah satu ormas muslim dengan nada kesal.
Aku hanya bisa tersenyum.
Untuk mengalihkan pembicaraan, Pakde
membicarakan tentang masa lalunya ketika tinggal di Gunungkidul. Jadi, dulu
Pakde bekerja dengan Bu Jumi, dan tinggal dibelakang bangunan SMK Pelayaran.
Keseharian Pakde dulu adalah di hutan. Ah, lama sekali mereka berbincang, seusainya
kami pamit pulang. Mereka membawakan kami satu plastik besar kacang tanah
kering. Kurasa tatapan mereka padaku mulai ramah, keluarga Bu Jumi
mempersilakan aku mampir kesini jika aku ke Gunungkidul lagi. In syaa Allah.
Kembali ke Rumah Pakde Pardi. Oh
Pakde Pardi, kemana dikau pergi? Pakde Pardi belum juga kelihatan waktu itu. Karena
hampir sore, kami bergegas pulang. Pakde menunjukkanku pohon Kelapa Gading yang
berdiri didepan rumah. Aku sudah lama menginginkan kelapa muda, maka Pakde
memanjat dan mengambil empat buah kelapa. Kami pamit pulang.
Perjalanan pulang kami mampir ke
tempat Lek Yuli. Agus, anak bungsu Lek Yuli sedang bermain dengan kalkunnya.
Beruntung kami, setiba dirumah Lek Yuli langsung hujan deras, coba kalau tetap
melanjutkan perjalanan, pastilah kami basah kuyup. Kebetulan Bulek membuat
soto, lantas kami makan bersama dengan menu soto (lagi) dan es kelapa yang
dipetik tadi. Aku selalu rindu suasana keluarga yang seperti ini. Hem, coba
kalau keluargaku tak sibuk.
Setelah puas bercengkrama, kami
segera pulang. Hujan juga sudah mereda. Setelah melewati rel kereta api di
Jalan Piyungan-Prambanan, Pakde memintaku berhenti di salah satu toko sepatu.
Aha! Pakde membelikanku sepatu. “Pakde belum pernah lihat kamu kuliah pakai
sepatu”, katanya. Aa, makasih Pakde. Kebetulan aku berencana mau beli sepatu J. Karena sudah dapat, uangku bisa ditabung :D
Sampai rumah aku mandi, menyapu
sebagian teras. Lalu tidur.
One day with Pakde
Komentar
Posting Komentar