Demi waktu


Sore ini aku berjalan menyusuri Selokan Mataram sepanjang Pogungrejo, mulai dari belokan depan Soto Pak Nanto sampai bunderan paskasarjana UGM, lalu belok kanan menuju sebuah masjid yang berhimpitan dengan tembok pagar RS. Sardjito. Sengaja aku berjalan di tengah rintik hujan dengan hanya berteman sebuah payung pinjaman. Aku ingin manyaksikan ayat-ayat kauniyah-Nya, yang dengannya aku ingin menikmati indahnya bersyukur.

Sepanjang jalan, kuisi kekosongan pikir dengan murajaah hafalan yang sudah lama kutinggalkan. Entah, apakah benar pengucapanku, apakah terpenuhi hak setiap hurufnya, aku tak begitu yakin. Mulutku masih komat-kamit, aku tak peduli dengan seliweran  orang. Beberapa ayat (meski tak banyak) lamat-lamat kuingat terjemahannya, aku berharap yang sedikit itu paling tidak ada yang nyangkut di otakku, tersimpan di hatiku, lalu ditransformasikan dalam bentuk perbuatan sesuai dengan yang dituntunkan oleh kekasihku.

Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang mengerjakan amal shalih, dan saling menasihati supaya menaati kebenaran, dan saling menasihati supaya menetapi kesabaran” (Q. S. Al Asr:1-3)

Masyaa Allaah. Aku bukan ahli tafsir, pun masih sangat fakir ilmu agama. Tak ada sebesar atom pun ilmu yang ada padaku jika dibandingkan dengan luasnya ilmu Allah, yang jika seluruh air di lautan dijadikan tinta untuk menuliskan kalimat-Nya, niscaya tak akan cukup. Hanya saja, tiga ayat itu begitu lugas, padat, dan tegas. Kenapa Allah bersumpah atas nama masa (waktu)? Aku tak mampu menjawabnya. Ya, sekali lagi karena aku masih sangat fakir ilmu agama. Aku hanya berpikir, jika Allah bersumpah atas namanya, berarti waktu menjadi hal yang penting.

Waktu, satu dari dua nikmat yang manusia lalai darinya. Aku hanya takut menjadi orang yang lalai dan merugi. Ia selalu berlalu. Aku tak mampu mengejarnya. Ia tak mau menunggu, begitu tega. Lantas kurenungi umurku. Selama ini, prestasi “langit” apa yang sudah kuraih? Adakah amalan baik yang kelak menjadi teman dalam kuburku nanti? Atau hanya akan muncul sesosok yang bau, buruk rupanya, serta menambah penyiksaan yang akan kurasa. Yaa Allaah, aku tak begitu percaya diri bisa jadi tetangga Rasulullah di surga, namun setidaknya aku tak ingin kekal di neraka.

Yaa Allaah. Aku hanyalah seorang hamba yang sedang berhutang kepada-Mu. Kelak harus kukembalikan seluruh pinjaman kepada-Mu, bahkan diri ini adalah milik-Mu. Semoga aku bisa mengembalikannya dalam keadaan yang baik, seiring dengan waktu yang kau sediakan untukku. Aamiin.

5 Maret 2016


Sumber gambar pendukung:
http://www.minhajquranacademy.com/images/demo/portfolio-9.jpg

Komentar

Postingan Populer