My Name Is Intan
Saya,
Anda, atau kita semua mungkin memiliki nama panggilan yang jauh dari yang
tertulis di akte kelahiran masing-masing. Selama saya hidup sampai
(alhamdulillah) saat ini, ada saja nama panggilan yang tersemat pada diri saya.
Semasa SD, saya dipanggil dengan julukan “Kucir” karena hampir setiap hari
rambut panjang saya terikat dengan berbagai gaya, ada lagi yang memanggil
“Areng” karena saking hitam manisnya kulit saya. Ada saja nama julukan yang
saya pun tak paham nama itu berasal dari mana.
Suatu
ketika, seseorang berkata:
“Intan,
kalau seseorang di dunia dipanggil dengan julukan (yang tidak bermakna) seperti
itu, besok di persidangan akhirat dipanggil dengan nama apa ya?”
Yang
ditanya pun tak tahu harus menjawab apa. Saat itu saya teringat pernah ditegur
oleh mama tercinta karena ikut-ikutan memanggil teman kakak saya dengan
panggilannya yang sudah dianggap biasa, yaitu “Rendheng”. Rendheng adalah
sebutan untuk sisa-sisa tanaman yang biasanya digunakan untuk pakan ternak.
Nama aslinya saya lupa, yang jelas maknanya sangat indah dan melukiskan harapan
baik dari kedua orang tuanya.
Nama adalah bentuk cinta
Sang
terkasih Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam selalu memilihkan nama yang
baik untuk anak-anak dan para sahabatnya. Begitulah salah satu bentuk cinta Al
Hasyr1, beliau mengganti nama-nama yang buruk dan yang tidak disukai
Allah menjadi nama-nama yang baik, seperti nama ‘Ashiyah (wanita yang
bermaksiat) menjadi nama Jamilah (wanita yang cantik), Ashram (buntung) menjadi
Zur’ah (tumbuh), dan lihatlah Al Faruuq, begitu agung julukan bagi sahabat
Rasulullah ini. Aih, saya jadi membayangkan ada yang memanggil saya “Intan
sholihah” atau sejenisnya.
Nama adalah doa
Para
sahabat selalu memberikan nama bagi keturunan mereka nama yang baik, bahkan
nama orang-orang sholih dengan harapan agar putra-putri mereka memiliki
kebaikan layaknya pemilik nama sebelumnya. Az-Zubair r.a. memberi nama bagi
anak-anaknya dengan nama para sahabat yang syahid, seperti Abdullah meniru Abdullah bin Jahsy (Perang
Uhud), Ja’far meniru nama Ja’far bin Abi Thalib (Perang Mu’tah), dan Ubaidah
meniru Ubaidah bin Harits (Perang Badar). Alangkah indahnya.
Panggil aku dengan nama yang saya ridha
dengannya
Saat
ini, saya lebih dikenal dengan nama “Kum” daripada “Intan”, karena ada banyak
nama Intan berseliweran di tanah air
Indonesia. Yah, memang kedua nama itu termasuk dalam nama lengkap saya, Intan
Kumalasari; namun saya lebih nyaman dipanggil dengan panggilan yang mama saya
memanggil dengannya, Intan.
Saya
pernah bertanya pada orang tua, apa sebenarnya makna dari nama saya. Mama
bercerita bahwa nama Intan dipilih karena Intan adalah salah satu nama
perhiasan yang indah dan mahal, itulah harapan beliau pada saya. Konon, 25
Oktober 1994 lalu, saya terlahir dengan warna kulit yang begitu gelap dan
berbadan mungil (lahir sebelum waktunya). Mama ingin agar saya tumbuh sebagai
perempuan yang indah dan mahal, menyenangkan namun tidak murahan. Mama
menambahkan bahwa hanya intan yang mampu membelah kaca dengan rapi seberapapun
tebalnya. Dalam nama terharap si pemilik mampu melewati setiap permasalahan
seberapapun besarnya dengan rapi tanpa menusuk sana-sini. Duhai, begitu indah
sematan doa dalam nama saya. Maka, panggil saya dengan nama yang saya ridha
terhadapnya.

Komentar
Posting Komentar