Saudara Sedunia Maya



Dia kirimkan padaku seuntai doa, cukup panjang. Bahasanya begitu cantik, dihiasi dengan gambar-gambar menarik. Aku pun mengamini.
“Ukhibukhifillah, Ukhti.”
Ini terjadi hampir setiap malam. Selalu ia akhirkan dengan doa-doa persahabatan,
“Semoga kita bersaudara sampai surga”
“Semoga keletihanmu berbalas kebaikan”
Dan lain sebagainya
Saudaraku yang aku tak tahu berada dimana ia saat itu, temanku berbagi informasi siang-malam, saling menanyakan kabar. Aku pun mendoakan kebaikan baginya, merindu jumpa dengannya.
Keromantisan itu selalu tercipta di ruang chatting Whatsappku. Bercanda, tertawa, berbagi nasihat, curhat, dan obrolan lain yang tak pernah sepi. Duhai, indahnya bersaudara.
Kedua ibu jari selalu asyik merangkai kata. Mata membaca diikuti senyum yang entah mengapa. Bahagianya bersaudara.
Saudara sedunia maya. Meski dingin ketika jumpa, kami tetap berbahagia. Meski tak pernah saling sapa, kami menikmatinya, dalam dunia maya. Ya, dunia maya. Tak peduli orang sekitar sedang apa.
Kubaca sebuah artikel menarik, kuteruskan saja pada saudara sedunia maya, tanpa peduli keshohihan sumbernya. Mereka berkomentar, menambahkan, menambahkan topik percakapan, si fulanah telah begini, si fulan telah begitu, ghibah sudah biasa. Berjam-jam kuhabiskan waktu untuk “bersilaturahmi” lewat dunia maya. Ketika ia mengeluhkan derita, aku menyemangatinya dengan kata, plus gambar hati dan bunga-bunga. Itu sudah cukup, tak perlu pelukan, tak perlu telinga untuk mendengar, tak perlu tangan untuk memberi bantuan.

Ah, dunia maya. Terimakasih telah menjadi perantara aku dengannya, saudaraku sedunia maya.

Komentar

Postingan Populer