AYAH



Ayahku bukan seorang kapiten, bukan presiden, apalagi supermen. Ayahku hanya seorang pedagang kecil. Pedagang yang memulai usaha dari berjualan souvenir keliling. Berjalan menawarkan dagangan yang tak seberapa. Mengejar turis berkata sebisanya.
Ayahku tak sekeren selebritis yang banyak dikagumi ibu-ibu genit. Ayahku hanya seorang lelaki berkulit kelam terbakar matahari. Rambutnya telah memutih, pakaiannya kusut tak rapi, giginya tak utuh lagi,
Ayahku bukan seorang agamis, bukan pula akademisi, apalagi tokoh politisi. Ayahku hanya orang kampung yang sekolah dasar saja tak lulus.
Ayahku bukan purnama di malam hari. Ayahku hanya seniman kelas teri.
Ayahku tak seperti ayahnya, tak seperti ayah mereka, ayahku berbeda.

Semasa aku kecil, teman-temanku membaca dan menyanyi di sekolah usia dini. Ayahku hanya mampu mengajakku berkeliling kebun tetangga mencari ulat sebagai teman bermain.
Semasa taman kanak-kanak, teman-temanku bermain dengan boneka cantik yang punya banyak pakaian dan pernak-pernik. Ayahku hanya mampu memberikan aku boneka menyeramkan yang dibuat instan dari pelepah pisang.
Semasa sekolah dasar, teman-temanku dijemput dengan mobil mewah dan besar. Ayahku hanya mampu menyediakan telapak tangan, untuk kugenggam selama berjalan pulang.
Semasa SMP, teman-temanku bermain game dengan benda kecil bernama hape. Ayahku hanya mampu membelikanku dakon kayu jelek.
Semasa SMA, teman-temanku mengerjakan tugas dengan komputer milik mereka sendiri. Aku harus menginap di warnet sampai pagi.
Kini aku menapaki jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Aku tak mau belajar lagi.
Aku bosan, aku muak. Aku ingin menjadi putri dalam dongeng, duduk manis tak perlu bersusah payah, memakai gaun indah, masa depan terhampar cerah.
Ah. Kenyataan tak begitu, Intan. Kau harus menahan yang kau inginkan. Kau harus rela berpanas-panasan, rela hanya memakai pakaian brand pasar tradisional, rela setiap hari makan nasi gudang. Kau harus rela hidup sederhana penuh siksa.
Semua karena Ayah. . .
Ayahku hanya memberiku meja belajar bekas ketika aku masuk SMA. Ia dorong dengan gerobak tua, yang selama ini menemaninya mengangkut sampah. Berjalan seorang diri dengan wajah berseri-seri. Ah, aku tak peduli.
Seiring waktu berjalan, dagangan semakin mapan. Ayah tak perlu lagi mengejar-ngejar calon pelanggan. Bagus jika aku tak perlu begadang memijit ayah yang kelelahan.
Ia semakin renta. Fisiknya tak seperti ketika muda. Tak lagi kuat membopongku ketika aku tertidur di ruang tamu. Genggamannya melemah, tak lagi kuat memijit badanku setelah seharian belajar di sekolah. Langkahnya sudah tak tegap, tak lagi mampu bergegas membelikanku bakso langganan di seberang desa. Ayahku semakin berubah. . . .
Ayah semakin malas bekerja. Ia hanya berbaring saja. Keuangan mulai labil, aku tak lagi bisa “nongkrong” bersama teman sepergaulan.
Ayah mulai banyak mengeluh, mulai banyak meminta ini itu. Kakinya bengkak melebihi besarnya sepatuku. Ayahku. . . .

Ah, ayah. Aku tak bisa selalu disampingmu. Amanah organisasi mengharuskanku jauh darimu. Aku pun harus menyelesaikan kuliahku, janganlah kau mempersulit langkahku.

Ayahku mengerti. Ia tersenyum. Ia nasihatkan padaku untuk belajar dengan benar. Ia hibur dirinya dengan berdagang, pekerjaan yang ia amat sayang. Ia bilang padaku tak usah pikirkan biaya, belajarlah setinggi-tingginya.

Ialah ayahku. Ayah yang pernah tengah malam membawaku dengan gerobak menuju dokter seberang desa ketika aku demam. Ayah yang selalu membacakan dongeng dan menyanyikan langgam setiap malam. Ayah yang selalu memboncengku dengan sepeda onthel keliling Prambanan.
Ialah ayahku. Ayah yang menungguku sampai jam sekolah usai. Ayah yang selalu mengajakku mencari kerang di sungai. Ayah yang lisannya tak pernah memarahi, tangannya tak pernah menyakiti.
Ialah ayahku. Ayah yang pura-pura kenyang ketika menemaniku makan di restoran. Ayah yang siang-malam bekerja, bahkan mencari pinjaman untuk membelikanku kendaraan.
Ialah ayahku. Giginya yang tak lengkap selalu ia nampakkan di hadapanku. Tutur katanya selalu lembut meski aku sering merengek minta ini itu.
Ialah ayahku. Ia jadikan rumah yang semula berdinding anyaman bambu menjadi tumpukan bata yang saling melekat agar aku nyaman beristirahat.
Ialah ayahku yang bukan seorang kapiten. Ayah yang tak lulus SD, yang ingin menyaksikan putra-putrinya jadi sarjana.


Ketika usianya semakin menua

12 Maret 2016


Sumber gambar pendukung:
http://publicdomainvectors.org/photos/father-daughter-line-art-ArtFavor-Dad-holding-daughters-hand.png

Komentar

Postingan Populer