Hai, Kucing Kecil! Terimakasih Telah Memberiku Pelajaran

07 Februari 2016


Malam itu, hujan mengguyur dengan mesra. Keberkahan seperti datang bersama rintik-rintiknya. Seperti biasa, ba’da maghrib merupakan salah satu waktu favoritku karena nuansa bahagia selalu tercipta di gubuk sederhana yang kutempati bersama sekumpulan manusia yang kemudian disebut dengan ‘keluarga’. Ada saja yang mengudang tawa. Entah itu tingkah Dendra, keponakanku yang (saat itu) paling ganteng; polah si Freddy, kucingku yang tiada dua gantengnya; maupun adegan dalam sinetron favorit mama. Nah, yang disebut terakhir nih, kalau mama sudah duduk manis di depan balok berlayar itu, mau hujan badai kek, jangan harap bisa paksa mama beranjak darinya. Hehe, tak apa lah. Selama itu bisa membuat mama bahagia.
Kali ini, kami kedatangan tamu yang tak biasa. Kenapa tak biasa? Karena dia bukan dari golongan manusia? Lah?!

Tenang! Jangan berprasangka! Tamu yang kumaksud bukan jin maupun mbak kunti, melainkan seekor kucing kurus kering kerontang yang sedang ‘nunut ngeyup’ di gubuk kami. Usianya mungkin lebih tua dari Freddy, tapi ukurannya jauh lebih kecil dari Freddy. Memang itu ukuran kucing pada umumnya, Freddy saja yang gendutnya tidak umum.

Ini bukan cerita yang istimewa, biasa saja. Yah, bagi sebagian orang. Bagiku tidak. Si kucing kecil terlihat sangat kelaparan, namun hanya diam. Jangankan untuk mengeong, menggeser badannya dari keset yang ia pakai sebagai alas berbaring saja mungkin tidak kuat. Aku belum pernah melihatnya. Ia seperti musafir yang kelelahan, entah darimana asalnya. Dari tempat dudukku –di depan layar tv-, aku memandanginya. Sesekali ia melihat ke arah Freddy seperti berkata, “Enak sekali kucing gendut itu, tinggal dirumah beratap, diberi makan sehari tiga kali, bersih, dan tidur di kasur empuk” atau apalah, sejenisnya.
Tatapan matanya seperti berkata, “Aku lapar”. Maka, aku mengambil sebagian makan malam Freddy, lalu kutaruh di dekat kucing kurus itu. Tak seperti kucing liar lainnya, ia tak berlari ketika kudekati. Aku menutup pintu dan melanjutkan aktivitas bersama keluarga sampai terlelap dalam balutan selimut malam yang Allah bentangkan sebagai waktu beristirahat.
***
Pagi hari, ba’da shubuh, aku niatkan untuk menikmati suasana pagi, mengagumi karya Allah yang luar biasa dahsyat, kudapati kucing kecil itu masih berada di tempat yang sama. Namun, kondisinya sudah berbeda. Ia duduk, matanya menatapku seolah berkata, “Aku sudah tidak kelaparan”. “Baiklah, kalau begitu aku bahagia mendengarnya”, batinku seolah kami sedang bercakap lewat tatapan. Kucing itu pergi begitu saja. Sebelum menjauh, ia menengok kearahku lalu melanjutkan perjalanan. Aku melanjutkan beraktivitas. Yah, aktivitas anak perempuan pada umumnya –yang tidak bisa lepas dari sapu dan saudaranya-.
***
Sore hari, kucing itu datang kembali. Kali ini, dia mengeong seperti Freddy ketika jam makannya tiba.
“Meong, meong, meong!” kali ini dia mengeong agak manja di teras rumah.
“Hus, hus, hus!” mamaku entah datang darimana menyuruh pergi kucing kecil itu.
Dendra yang saat itu baru saja tiba, “Uti, jangan dijahatin! Itu makhluknya Allah” (dalam bahasa Jawa). Dendra melanjutkan, “Mbok dikasih makan, Ti.” Mama yang sayangnya luar biasa pada cucunya itu tak bisa menolak. Alhasil, Freddy harus rela berbagi dengan si kucing kecil.
Begitu seterusnya. Setiap pagi dan sore, kucing kecil itu ‘mampir’ untuk ikut makan, mengambil separuh dari ‘jatah’ makan si Freddy.
***
Biasa bukan? Tentu. Namun, dari situ aku banyak belajar. Suatu hari, ketika kucing kecil itu datang dan mengeong seperti biasa, keluarga sedang ‘riweuh’ sehingga tak ada yang menggubrisnya. Meski agak menjengkelkan, namun kucing itu tetap menggemaskan. Kucing itu tetap mengeong dan mengeong, sampai mama yang sudah tidak tahan mendengarnya lantas membeli dua pindang matang yang agak besar. Satu untuk Freddy dan satu untuk si kucing kecil. Hati mama luluh, ia tak memperlihatkan wajah kejengkelan, justru wanita yang telah melahirkanku itu ‘menghidangkan’ makan untuk dua kucing yang semakin akrab itu dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Bagaimanapun, mama selalu rindu mendengar suara makhluk kecil berbulu itu.

Apa yang spesial? Baik, mari kita lanjutkan.
Itu kucing lho, Ukhti. Mengeong di hadapan manusia yang tak punya daya dan upaya, kecuali dengan ijin Tuhannya! Bayangkan jika kita memohon dan terus memohon langsung pada yang memberi kita hidup, Tuhan Yang Maha Malu jika tak mengabulkan pinta hamba-Nya yang meminta dari hati yang tulus.
Janji Allah itu pasti. Jika saat ini keinginanmu tak kau dapatkan, teruslah merengek pada-Nya. Barangkali Dia merindukan rengekanmu di sepertiga malam ketika yang lain sedang terlelap. Jika tak kau dapatkan juga, barangkali Dia gantikan dengan yang lebih baik untukmu. Tuhanmu lebih mengetahui dari dirimu sendiri. Jika tak kau dapatkan di dunia, barangkali Dia telah mempersiapkan hadiah tebaik dari usahamu di jannah-Nya.
Ini adalah nasihat bagi diriku sendiri yang kadang kurang peka menangkap hikmah di balik peristiwa, semoga juga menjadi manfaat bagi siapapun yang membacanya. Allahu ‘alam bishowwab.
Seorang hamba yang papa tanpa kasih sayang-Nya.

-iKum-
Sumber:
Berdasarkan kisah nyata yang sedikit ‘tercemar’ dengan imajinasi penulis. Insya Allah, semoga pesan yang dimaksud dapat tersampaikan.


Komentar

Postingan Populer