Hai, Kucing Kecil! Terimakasih Telah Memberiku Pelajaran
Malam
itu, hujan mengguyur dengan mesra. Keberkahan seperti datang bersama
rintik-rintiknya. Seperti biasa, ba’da maghrib merupakan salah satu waktu
favoritku karena nuansa bahagia selalu tercipta di gubuk sederhana yang
kutempati bersama sekumpulan manusia yang kemudian disebut dengan ‘keluarga’.
Ada saja yang mengudang tawa. Entah itu tingkah Dendra, keponakanku yang (saat
itu) paling ganteng; polah si Freddy, kucingku yang tiada dua gantengnya;
maupun adegan dalam sinetron favorit mama. Nah, yang disebut terakhir nih,
kalau mama sudah duduk manis di depan balok berlayar itu, mau hujan badai kek,
jangan harap bisa paksa mama beranjak darinya. Hehe, tak apa lah. Selama itu
bisa membuat mama bahagia.
Kali
ini, kami kedatangan tamu yang tak biasa. Kenapa tak biasa? Karena dia bukan
dari golongan manusia? Lah?!
Tenang!
Jangan berprasangka! Tamu yang kumaksud bukan jin maupun mbak kunti, melainkan
seekor kucing kurus kering kerontang yang sedang ‘nunut ngeyup’ di gubuk kami.
Usianya mungkin lebih tua dari Freddy, tapi ukurannya jauh lebih kecil dari
Freddy. Memang itu ukuran kucing pada umumnya, Freddy saja yang gendutnya tidak
umum.
Ini
bukan cerita yang istimewa, biasa saja. Yah, bagi sebagian orang. Bagiku tidak.
Si kucing kecil terlihat sangat kelaparan, namun hanya diam. Jangankan untuk
mengeong, menggeser badannya dari keset yang ia pakai sebagai alas berbaring
saja mungkin tidak kuat. Aku belum pernah melihatnya. Ia seperti musafir yang
kelelahan, entah darimana asalnya. Dari tempat dudukku –di depan layar tv-, aku
memandanginya. Sesekali ia melihat ke arah Freddy seperti berkata, “Enak sekali
kucing gendut itu, tinggal dirumah beratap, diberi makan sehari tiga kali,
bersih, dan tidur di kasur empuk” atau apalah, sejenisnya.
Tatapan
matanya seperti berkata, “Aku lapar”. Maka, aku mengambil sebagian makan malam
Freddy, lalu kutaruh di dekat kucing kurus itu. Tak seperti kucing liar
lainnya, ia tak berlari ketika kudekati. Aku menutup pintu dan melanjutkan
aktivitas bersama keluarga sampai terlelap dalam balutan selimut malam yang
Allah bentangkan sebagai waktu beristirahat.
***
Pagi
hari, ba’da shubuh, aku niatkan untuk menikmati suasana pagi, mengagumi karya
Allah yang luar biasa dahsyat, kudapati kucing kecil itu masih berada di tempat
yang sama. Namun, kondisinya sudah berbeda. Ia duduk, matanya menatapku seolah
berkata, “Aku sudah tidak kelaparan”. “Baiklah, kalau begitu aku bahagia
mendengarnya”, batinku seolah kami sedang bercakap lewat tatapan. Kucing itu
pergi begitu saja. Sebelum menjauh, ia menengok kearahku lalu melanjutkan
perjalanan. Aku melanjutkan beraktivitas. Yah, aktivitas anak perempuan pada
umumnya –yang tidak bisa lepas dari sapu dan saudaranya-.
***
Sore
hari, kucing itu datang kembali. Kali ini, dia mengeong seperti Freddy ketika
jam makannya tiba.
“Meong,
meong, meong!” kali ini dia mengeong agak manja di teras rumah.
“Hus,
hus, hus!” mamaku entah datang darimana menyuruh pergi kucing kecil itu.
Dendra
yang saat itu baru saja tiba, “Uti, jangan dijahatin! Itu makhluknya Allah”
(dalam bahasa Jawa). Dendra melanjutkan, “Mbok dikasih makan, Ti.” Mama yang
sayangnya luar biasa pada cucunya itu tak bisa menolak. Alhasil, Freddy harus
rela berbagi dengan si kucing kecil.
Begitu
seterusnya. Setiap pagi dan sore, kucing kecil itu ‘mampir’ untuk ikut makan,
mengambil separuh dari ‘jatah’ makan si Freddy.
***
Biasa
bukan? Tentu. Namun, dari situ aku banyak belajar. Suatu hari, ketika kucing
kecil itu datang dan mengeong seperti biasa, keluarga sedang ‘riweuh’ sehingga
tak ada yang menggubrisnya. Meski agak menjengkelkan, namun kucing itu tetap
menggemaskan. Kucing itu tetap mengeong dan mengeong, sampai mama yang sudah
tidak tahan mendengarnya lantas membeli dua pindang matang yang agak besar.
Satu untuk Freddy dan satu untuk si kucing kecil. Hati mama luluh, ia tak
memperlihatkan wajah kejengkelan, justru wanita yang telah melahirkanku itu
‘menghidangkan’ makan untuk dua kucing yang semakin akrab itu dengan penuh
kelembutan dan kasih sayang. Bagaimanapun, mama selalu rindu mendengar suara
makhluk kecil berbulu itu.
Apa
yang spesial? Baik, mari kita lanjutkan.
Itu
kucing lho, Ukhti. Mengeong di hadapan manusia yang tak punya daya dan upaya,
kecuali dengan ijin Tuhannya! Bayangkan jika kita memohon dan terus memohon
langsung pada yang memberi kita hidup, Tuhan Yang Maha Malu jika tak mengabulkan
pinta hamba-Nya yang meminta dari hati yang tulus.
Janji
Allah itu pasti. Jika saat ini keinginanmu tak kau dapatkan, teruslah merengek
pada-Nya. Barangkali Dia merindukan rengekanmu di sepertiga malam ketika yang
lain sedang terlelap. Jika tak kau dapatkan juga, barangkali Dia gantikan
dengan yang lebih baik untukmu. Tuhanmu lebih mengetahui dari dirimu sendiri.
Jika tak kau dapatkan di dunia, barangkali Dia telah mempersiapkan hadiah
tebaik dari usahamu di jannah-Nya.
Ini
adalah nasihat bagi diriku sendiri yang kadang kurang peka menangkap hikmah di
balik peristiwa, semoga juga menjadi manfaat bagi siapapun yang membacanya.
Allahu ‘alam bishowwab.
Seorang
hamba yang papa tanpa kasih sayang-Nya.
-iKum-
Sumber:
Berdasarkan
kisah nyata yang sedikit ‘tercemar’ dengan imajinasi penulis. Insya Allah,
semoga pesan yang dimaksud dapat tersampaikan.

Komentar
Posting Komentar