Hindun binti ‘Utbah ra.
Nama diatas
pastilah amat lekat pada benak kaum muslim. Ialah ibunda dari Khalifah Bani
Umayyah, Mu’awiyah bin Abu Sufyan ra. Semasa jahiliyah, wanita ini amat sangat
dendam kepada kaum muslimin atas kematian ayah, paman, dan saudara kandungnya
dalam perang Badar. Maka, ia kirim Wahsyi untuk membunuh Hamzah, Sang Singa
Allah pada Perang Uhud. Dendamnya terlampiaskan.
Kisah
lengkapnya, pastilah Anda sudah paham benar bagaimana peran Hindun bersama
suaminya, Abu Sufyan dalam memerangi kaum muslimin sebelum cahaya islam merasuk
dalam relung jiwa mereka.
Baik. Saya
tidak akan bercerita panjang lebar tentang kisah perjalanan wanita yang memeluk
islam setelah fathu Makkah ini. Namun, ada beberapa kisahnya yang begitu
menarik bagi saya. Pertama, ketika Allah Azza
wa Jalla membuka hatinya untuk menerima islam, lalu ia berba’iat kepada
Rasulullah saw. di Bukit Shafa. Saat itu, ia mengenakan pakaian tertutup agar
tidak dikenali Rasulullah saw. Ia malu.
Rasulullah
saw. berkata, “Aku meminta kalian berjanji untuk tidak menyekutukan apapun
dengan Allah.” Yang kemudian disampaikan oleh Umar bin Kaththab untuk
memastikan jawaban kaum wanita. Rasulullah saw. melajutkan, “Dan tidak boleh
mencuri.” Tiba-tiba seorang wanita menyela, “Sesungguhnya Abu Sufyan sangat
kikir. Bagaimana jika aku mengambil sebagian hartanya tanpa dia ketahui?” Abu
Sufyan yang berada tidak jauh dari tempat tersebut menimpali, “Semua yang
engkau ambil telah kuhalalkan.” Mendengar dialog tersebut, Rasulullah saw.
tertawa dan berkata, “Kalau begitu, engkau pasti Hindun?”
Entah. Bagi
saya, peristiwa tersebut begitu menarik. Saya membayangkan Hindun yang begitu
ganasnya berlaga di medan perang, membawa pedang, menabuh genderang permusuhan,
dan melantunkan bait-bait syair kebencian bisa berlaku se’polos’ itu ketika
telah merasakan manisnya tegukan iman, sampai-sampai Rasululah saw. tertawa
karenanya. Dan rasa malu yang ia bawa, benar-benar bisa ia taruh pada tempat
yang tepat. Bagaimana tidak? Selama lebih dari 20 tahun ia mengobarkan api permusuhan,
kini berhadapan dengan manusia yang pernah sangat ia harapkan binasa.
Diriwayatkan oleh Muslim no. 8 dan 1714, ‘Aisyah menuturkan, “Hindun datang
kepada Rasulullah saw. seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, demi Allah, selama
ini tidak ada golongan di dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah
membinasakannya daripada golonganmu. Tetapi hari ini, tidak ada golongan di
dunia ini yang paling aku harapkan agar Allah memuliakannya, daripada
golonganmu.’” Saya rasa, hanya orang-orang yang berjiwa besar yang mampu
melakukan itu, tentu atas ijin Allah SWT. Manusia yang meninggikan rasa gengsi-nya (malu yang tidak tepat)
tentulah sulit megakui kelemahan diri dihadapan musuh terbesarnya.
Rasulullah
saw. melanjutkan, “Dan tidak boleh berzina.” Hindun menyela, “ Apakah wanita
merdeka suka berzina?” Rasulullah saw. berkata lagi, “Dan tidak boleh membunuh
anak-anak kalian.” Hindun berkata, “Kami telah bersusah payah membesarkannya,
tetapi setelah besar, kalian membunuhnya. Kalian dan mereka lebih mengetahui
tentang hal ini (anak pertama Hindun terbunuh ketika Perang Badar).” Mendengar
pernyataan tersebut, Umar tertawa terpingkal-pingkal sampai berbaring,
Rasulullah saw. tersenyum. Saya membayangkan berada disana dan menyaksikan
peristiwa ini, manisnya.
Kedua,
setelah Hindun memeluk islam. Ketika Allah ‘Azza wa Jalla membuka hatinya untuk
menerima islam, ia langsung memupus noda-noda jahiliyahnya. Allah membersihkan
jiwanya dari kedengkian, membebaskan hatinya dari kebencian, menyingkap
pikirannya dari tabir kejahiliyahan, dan melepas pengetahuannya dari kebatilan.
Sesaat setelah masuk islam, ia hancurkan berhala yang ada dalam rumahnya sampai
hancur berkeping-keping, “Selama ini, kami terperdaya olehmu.”
Jika
sebelumnya Hindun tampil dalam kecamuk perang Uhud sebagai musuh, kini ia
adalah pembela agama Allah dalam perang Yarmuk. Hindun yang melihat suaminya
hendak berbalik arah dan melarikan diri, segera mengejar dan memukul kudanya
seraya berkata, “ Engkau mau kemana wahai putera Shakhr? Ayo, kembali ke medan
perang! Berjuanglah habis-habisan agar engkau dapat membalas kesalahan di masa
lalumu. .” Saat itu juga, Abu Sufyan membelokkan kudanya dan kembali menuju
medan laga.
Siapa yang
menyangka bahwa seorang yang dahulu menaruh kebencian yang amat dalam terhadap
kaum muslim, telah menjadi pembela agama yang agung ini? Semoga Allah
meridhainya dan membuatnya ridha.
Inilah bagian
dari skenario Allah, jika saja Abu Dujanah menebaskan pedangnya kepada
shahabiyah yang agung ini pada Perang Uhud, mungkin namanya takkan dikenang.
Allah berkehendak lain, Zubai bin Al-‘Awwam mengatakan, “Aku melihat Abu
Dujanah telah mengayunkan pedangnya tepat diatas ubun-ubun Hindun binti ‘Utbah,
tetapi kemudian dia mengalihkan arahnya. Aku hanya bisa berkata, ‘Allah dan Rasul-Nya
yang lebih mengetahui’” Semoga Allah menjadikan Surga Firdaus sebagai
persinggahan terakhirnya.
Seseorang
tidak akan bisa bangkit dari keterpurukan tanpa mengalami proses radikal
terhadap dirinya. Perubahan ini tak semudah membalikkan telapak tangan. Perlu
memupuk keimanan dengan kendaraan kesungguhan dalam diri dan keistiqomahan
dalam melakukan kebaikan. Semoga Allah senantiasa meridhai langkah-langkah dan
perubahan pada diri kita. Aamiin.
Referensi:
Al-Mishri,
Mahmud. 2006. Shahabiyyat Haular Rasuul SAW. Terjemah: 35 Shahabat Wanita
Rasulullah oleh Asep Sobari dan Muhil Dhofir. Al-I’tishom Cahaya Umat. Jakarta
Timur

Komentar
Posting Komentar