Damn!! aku cinta kalian


Mirit, Petikusan, Kebumen, 3 Mei 2014
Galau menyertaiku saat itu. Aku berada pada 2 pilihan, Monitoring semai Cemara Udang Himaba atau LK 2 LDF KMIK (Agro). Kujatuhkan pilihanku pada Himaba. Kupikir aku akan lebih berguna disini. Baru berapa minggu aku terdaftar dalam himpunan ini, aku memaksakan diri untuk mencintainya.
Jujur saja, ini merupakan pilihan yang sulit bagiku. Mungkin kau akan mengatakan bahwa aku berlebihan atau lebay, tak peduli. Aku malu mengatakannya, tapi tak dapat kuelakkan bahwa aku merindukan KMIK saat itu.
Aku memaksakan diri untuk keluar dari ‘zona nyaman’ dan mencoba pada dunia yang berbeda, suasana yang berbeda, orang-orang yang berbeda, dan tingkat perhatian dengan sesama yang berbeda pula, nampaknya aku belum siap. Aku berada diantara banyak orang kala itu, namun pikiranku melayang, seolah ingin menghampiri keluarga keduaku di seberang sana, KMIK. Sedang apa adik-adikku di shelter ACT sana? Siapa yang mendampingi mereka? Apakah mereka kesepian? Apakah mereka kedinginan? Apakah mereka merasa nyaman? Argh, aku sungguh merindukan kalian. Aku ingin terbang menghampiri kalian saat itu juga, walaupun aku hanya menjadi patung yang tak berharga, aku ingin berada disamping kalian, mendampingi kalian.
Oh, aku hanya membohongi diriku saja, aku hanya tak mau mengakui bahwa aku meridukan kalian. Aku memaksakan untuk terlihat senang, memaksakan diri terlibat dalam pembicaraan yang tak kumengerti, namun sia-sia. Tetap saja aku merasa kesepian.
Aku ingin ikut bernyanyi bersama mereka, bercanda, tertawa bersama, tapi aku tak bisa, kurasa aku tak diterima disini. Ah, aku merasa sangat asing. Maafkan aku kawan.
Aku berjalan menjauh, duduk di tepian sawah. Menghubungi siapa saja yang ada di daftar kontak ponselku. Ada Dian, tersambung. Lagi-lagi aku harus pura-pura senang, sekedar berbasa-basi menanyakan laporan praktikum Perencanaan. Tak cukup mengusir kegundahanku. Kuhubungi semua keluargaku, ibu, bapak, Mas Yono, Mas Heri, Mbak Ayuk,   teman-teman dekatku, Novitasari, Siska, Early, Rifka, Wulan, Kiki, Sundari, Anik, dan semuanya. Hanya Irin yang mau mengobrol denganku dalam waktu yang cukup lama. Ah, tapi dia mencari si fulan dan memintaku agar bisa berbicara dengannya. Aku sendiri lagi, ditambah sekarang tanpa ponsel.
            Aku memutuskan untuk berjalan lebih jauh, duduk menikmati hamparan kebun kelapa di hadapanku, cukup lama. Lama. Semakin lama. Aku bosan, mungkin aku yang salah. Mungkin aku yang tak mau mencoba bergaul. Lebih baik aku kembali dalam sekumpulan kawan-kawanku disini. Aku berdiri dan berjalan menghampiri sekumpulan manusia yang sedang asyik bernyanyi. Berusaha menikmati apa yang ada dihadapanku saat itu, tak memikirkan yang lain.
Tetap saja gagal! Aku masih merasakan kegundahan. Aku berjalan sendirian ke Laguna, membawa kitab kecil bersampul hijau sebagai kawanku, cukup memberi ketenangan.

Jika kau tahu, tempat ini lebih indah dari foto, tapi menjadi biasa saja bagiku. Ada sesuatu yang salah, ada yang kurang. Sebenarnya ada apa denganku? Aku hanya tak mau mengakuinya. Yaa Allah, aku jadi ragu dengan niatku berada disini.
Dunia terasa sepi. Aku kalah. Aku merindukan kalian. Sedang apa kalian? Apakah kalian sedang menatap langit yang saat itu kutatap? Apakah kalian juga merasakan kerinduan yang kurasakan?
Inilah kemunafikanku, aku selalu mengelak bahwa aku tak membutuhkan kalian, tak nyaman berada diantara kalian, muak melihat kalian. Namun, tanpa kusadari aku selalu berusaha memancing perhatian kalian, selalu berusaha terlibat dalam pembicaraan apapun bersama kalian (meski hanya basa-basi atau tak kumengerti), aku ingin bersahabat dengan kalian, diperhatikan oleh kalian. Bahkan konyol, aku sampai mendramatisir keadaan, bertingkah seperti dalam sinetron galau yang sering ditayangkan di TV untuk tetap bersama kalian. Haha, aku sendiri malu mengingatnya (tapi aku tidak pernah mengeluarkan tangisan buaya kok, sumpah!!).
Tapi benar Ukh, Akh, selama ini aku cemburu pada kalian yang bisa akrab satu sama lain, saling curhat, saling memahami, dan kalau boleh sebut merek, aku iri dengan persahabatan Riski-Shakti, Rifka-Early, dan yang lain. Aku jadi ingat ketika Rifka buru-buru ke rumah Early untuk menjemputnya. Dia tak mau membuat Early kecewa, bahkan mengancamku untuk tidak mengatakan bahwa dia menjemput Early dari kampus, tapi dari rumah sekalian mampir. Dan aku ditinggal begitu saja. Malah diminta ke BSR untuk menjemput Sundari, dengan polosnya aku menuju BSR. Menunggu Sundari cukup lama (mungkin sangat). Dimana orang ini? Hingga sampai ponselku berdering, mereka bertiga sudah sampai Shopping. Begitu eratnya persahabatan mereka sampai tak peduli perasaan orang lain, manis sekali -,-
Haduh, malah membicarakan orang lain. Ceritanya kan saya sedang galau. Tapi, untuk keluargaku di Himaba:
“Kawan, aku menikmati saat-saat bersama kalian meskipun aku baru menjadi keluarga kalian dalam beberapa minggu, meski aku tak pernah ikut rapat departemen Jangker sekalipun (disebabkan kuliah, maaf Yudha, bisakah mencari hari lain?), tapi sering ikut kumpul Dipterocarpa kok, sumpah intensitas rapat kita tuh keseringan banget. Aku berusaha mencintai kalian, menjadi bagian dari keluarga ini, berusaha menempatkan diri (meski kadang bingung), bukan aku tak nyaman dengan kalian, tapi mungkin kalian terlalu pandai untuk dapat aku pahami, terlalu baik untuk bersahabat denganku, terlalu ramah untuk melihat wajah murungku. Kalian luar biasa sehat, cerdas, dan ceria. Hanya saja aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk beradaptasi.”
Ini kutulis untuk konsumsi pribadi, sekedar ingin menyimpan kenangan yang aku alami, gejolak perasaan yang kurasakan, aku sama sekali tak bermaksud membandingan siapapun atau apapun, sama sekali tak bermaksud melukai siapapun, gambar diatas hanya sebagai pelengkap, bukan pencemaran nama baik, lagi pula muka tidak kelihatan. Hanya sekedar coretan ringan dalam perjalanan waktuku yang begitu cepat. 

Komentar

Postingan Populer