Bersama cermin


Yaa Allah, beginikah rupa wajahku beberapa hari ini? Menyedihkan sekali! Cermin ini cukup mewakili betapa sebalnya orang yang berada di dekatku. Bisa jadi mereka ingin menonjokku, pergi jauh-jauh dariku, bosan melihatku, atau bahkan ingin membunuhku. Memang menyedihkan sekali muram wajahku.

Aku sangat merasa bersalah pada diriku. Disisi lain memang selalu ada peperangan dalam jiwa ini, seolah ada dua jiwa dalam satu raga yang selalu berseteru. Oh, aku bosan dengan keadaan ini. Maafkan aku yang tak bisa menjaga badan ini.

Sehari berdiam diri di rumah, cukup untuk bermuhasabah dan merinci masa. Yah, beberapa hari ini memang aku terjebak dalam pikiranku sendiri. Berkecamuk hati ini memikirkan suatu kondisi yang tak pasti, meratapi kesedihan yang tak berarti, menyesali keadaan yang kadung terlewati, sungguh gelap hati ini memendam amarah dan tak mampu memegang kendali emosi.
Sudah cukup aku begini. Aku tak tega membiarkan orang-orang yang kusanyangi merasakan kesedihan mayaku. Aku tak mau mereka pergi, sudah cukup aku terkukung dalam duniaku sendiri.
Kegelisahanku, kegundahanku, kekecewaanku, kepedihanku, dan amarahku kini kubungkus rapi dalam salah satu tempat di sudut hati yang tak akan mau aku buka lagi. Sudah cukup aku menghinakan diri. Sesekali mungkin diri ini butuh penghargaan, dan aku belum pernah menghargai diriku sendiri.
Aku terlalu suka memelihara dengki, iri, sedih berkepanjangan. Maka, kukatakan,
“Mulai detik ini aku bangkit!! Aku kubur masa laluku!! Kunikmati apa yang ada dihadapanku!! Detik ini adalah milikku!! Kenyataan ada di hadapanku, tak akan kukhayalkan lagi keadaan yang tak akan kudapati!! Selamat tinggal masa lalu, detik ini adalah detik terakhir aku membuang air mataku sia-sia!!”

Komentar

Postingan Populer