Saya ingin menjadi dokter
"Dek Rasyid cita-citanya jadi apa?", tanyaku pada seorang bocah yang sedari tadi duduk menunduk melihat tanah di depanku
"Dokter", jawabnya singkat.
"Kenapa?", ingin menggali lebih dalam darinya.
"Karena ayah saya dulu meninggal sebab sakit, sedangkan saya tidak mampu berbuat apa-apa. Saya ingin menjadi orang yang bermanfaat bagi saudara sesama muslim", jawabnya nampak polos.
"Masya Allah. Sesudah ini mau lanjut dimana?", aku semakin penasaran.
"Saya mau lanjut di sekolah binaan Daarut Tauhid, setelah itu lanjut ke Mesir.", jawabnya.
"Terus, apa yang sudah Dik Rasyid siapkan untuk menuju kesana?", aku menatapnya. Bocah itu masih menunduk.
"Saya sedang menghafal Al Quran sebagai salah satu syarat mendapatkan beasiswa. Saya menghindari televisi, namun tetap bermain bola. Saya mengulang pelajaran setelah tidur siang", jawaban yang jarang kudengar keluar dari mulut bocah kelas 6 SD.
***
"Monggo diminum dulu, Mbak", Ummu Rasyid datang sambil membawa nampan berisi 2 gelas air.
"Njih, maturnuwun, Buk"
Diam-diam aku menaruh rasa kagum pada keluarga ini, seorang single parent dengan 2 anak yang insya Allah sholih dan sholihah.
Rasyid, dia sejak pertemuan pertamaku dengannya sama sekali tak mau duduk dekat-dekat denganku, apalagi cuma berdua. Selalu ada sosok simbah yang menemani duduk di ruang itu. Dia yang tak pernah berbicara kasar padaku, memberi penghormatan padaku selaku guru privatnya, hingga aku merasa sungkan.
Simbahnya pula, selalu membawakan beraneka macam makanan jika aku hendak pulang. Masya Allah, semoga anakku kelak sholih dan sholihah, selalu menjaga adab serta akhlak. Semoga tercapai apa yang kau cita-citakan Dik Rasyid. Semoga kau menjadi cahaya di manapun kau berada

Komentar
Posting Komentar