Insya Allah, Nggak Janji ya!
A : “Dek, kemarin mbak tunggu lo di tempat janjian”
D : “Wah, maaf Mbak. Saya kecapekan habis
ikut aksi buat galang dana korban gempa”
A : “Kenapa ndak
ngabari? Kan sudah janji ketemuan. Janji itu hutang. Hutang itu sebisa mungkin
ditepati. Mbak kemarin nunggu Adek sampai sore lo, hehe.”
D : “Maaf, Mbak. Kan saya kemarin bilang Insya Allah, Mbak. Jadi ndak janji”
***
A : “Dek, minta tolong besok bawakan buku
mbak yang tentang Gaharu ya”
D : “Wah, bukunya kutinggal dirumah,
Mbak. Ndak kubawa ke kost”
A : “Adek kapan pulang?”
D : “Dua hari lagi Mbak, mungkin”
A : “Ya, berarti tiga hari lagi bisa
dibawa ke kampus kan Dek?”
D : “Iya Mbak. Tapi, insya Allah lo ya, Mbak.
Saya ndak janji”
***
H-1 syura
M : “Teman-teman, ingat ya. Besok kita
syura di sekre jam 9 teng, insya Allah”
I : “Insya Allah”
A : “Saya usahakan, tapi insya Allah ya”
K : “Insya
Allah, Mbak. Tapi saya ndak janji, ada ujian soalnya”
F : “Saya usahakan, insya Allah”
Begitu juga dengan
10 anggota yang lain, mayoritas jawab “Insya
Allah, . . . . ”
Hari H syura
Jam 9 baru M
yang datang
Jam 9.10
disusul oleh I
Jam 10 F
datang dalam keadaan sedikit basah terkena hujan
Seterusnya
sampai jam yang tak terhingga, tidak ada yang datang setelahnya. Alhasil, syura
hanya dilakukan bertiga.
H+1 syura
M : ”Assalamu’alaikum.
Teman-teman, saya mau tabayyun untuk
menghindari timbulnya dzon. Kemarin
kenapa ada yang tidak datang syura
dan tidak mengabari?”
A : “Maaf Mbak, kemarin hujan. Daya tahan tubuh saya lemah. Saya
ndak ada pulsa untuk mengabari”
M : “Baik. Alasan diterima. Yang lain?”
Semua anggota
diam sampai K angkat bicara.
K : “Afwan, Mbak.
Saya kan kemarin bilang insya Allah. Saya ndak janji datang sebab ada ujian jam 11”
***
Dulu pas TPA
(gini-gini saya pernah ikut TPA walaupun cuma sekali setahun), Ustadz saya ngasih
tahu kalau kalimat “Insya Allah” itu
artinya 99% iya, 1% kagak. Nah, kenapa mesti bilang insya Allah yang artiya
“Jika Allah menghendaki”?
Karena kita
gatau umur kita sampai kapan. Karena kita gatau satu menit, satu hari, atau
dalam waktu yang tak bisa ditentukan kita masih hidup atau kagak. Kita pun juga
gabisa mastiin ada sebab-sebab yang bikin kita gabisa dateng, misalnya hujan
badai, banjir bandang, sakit keras sampai opname,
atau sebab lain. Kita gatau apa yang bakal rencanakan itu bakal kejadian apa kagak, karena semua yang terjadi di dunia ini adalah atas kehendak Allah.
Nah, makanya
kita perlu punya sangu ijin-nya
Allah. Sebab Allah yang paling tahu apa yang paling baik buat kita. Kita nggak
tahu takdir sebelum itu terjadi. Bisa jadi ketika ada undangan walimah
misalnya, kita ucap "Insya Allah" datang, kita berupaya sekuat tenaga untuk datang, tapi saat itu justru anak
kita mendadak sakit parah. Minta maaf, ngabari ke yang punya gawe. Itu tidak dihukumi melanggar janji. Eh ternyata, setelah
ditelusuri di walimah itu ada biduan, pestanya standing party, padahal
Rasulullah mencontohkan kalau makan itu duduk, ada minuman beralkoholnya.
Bersyukur Allah jaga pandangan, telinga, dan darah kita. Ucapan "Insya Allah" itu mengandung doa pertologan (isti'anah) biar Allah mudahkan kita mengerjakan sesuau.
Yang ingin
saya sampaikan disini, menurut pemahaman saya, kalimat “Insya Allah” itu adalah penyandaran kita sama Allah. Jangan
disalahartikan! Jangan disalahgunakan! Gerimis doang terus ga nepatin janji,
pakai dalih “Berarti Allah ndak mengijinkan
aku datang”, padahal badan masih sehat, motor juga ada, nggak ada kerjaan di
kost pula, guling-guling sambil nonton drama Korea doang.
Kalimat “Insya Allah” itu kalimat yang agung,
disematkan dalam Al Quran. Gabisa diselewengkan gitu aja. Bernilai pahala, itu
bukti ketauhidan kita sama Allah.
Pesan saya
untuk diri pribadi saya dan semoga bermanfaat bagi Anda, hendaknya kita
berusaha menepati janji-janji kita. Saya pun pernah bahkan sering khilaf. Saya
akui. Namun, maksud saya disini adalah menasehati diri sendiri dan mengingatkan
kepada saudaraku sesama muslim, jangan sampai ada yang terdzolimi karena menunggu
kehadiran kita. Itu aja.
Sumber gambar:
http://www.kompasiana.com/shalahuddin.ahmad/jangan-katakan-insya-allah-sebelum-syarat-ini-terpenuhi_5683b3cc09b0bd8a091291b8
Sumber gambar:
http://www.kompasiana.com/shalahuddin.ahmad/jangan-katakan-insya-allah-sebelum-syarat-ini-terpenuhi_5683b3cc09b0bd8a091291b8


Komentar
Posting Komentar