Islam Buku?



“Nduk, kamu jangan dekat-dekat dengan Mas Anu itu. Dia itu islamnya islam buku.”, seorang bapak yang sedari tadi duduk disampingku tiba-tiba berkata demikian sambil menunjuk kearah yang dimaksud.

“Islam buku? Maksudnya bagaimana, Pak?”, aku mengerutkan dahi. Benar-benar tidak paham.

“Yaa, semenjak suka baca buku dia jadi berubah. Sekarang kalau jalan cepet, lihat bawah terus, jadi suka ke masjid, pakai celananya cingkrang, pelihara jenggot, ndak mau salaman sama perempuan. Jadi aneh gitu lah”, kira-kira begitu penjelasan si bapak

“Loh, malah bagus to, Pak? Nyunnah. Hehe.”, sambil nyengir kuda

“Islam yang begitu itu fanatik. Ndak baik. Aneh. Kalau ndak jadi teroris, ya ujung-ujungnya gila”, tandas si bapak menggebu-gebu.

“Kalau fanatiknya sama Rasulullah itu malah baik, Pak. Kalau sama gologan tertentu, nah itu yang ndak baik”, berusaha tenang.

“Halah, kamu itu. Belajar agama baru kemarin sore sudah berani nasihatin saya! Jangan-jangan kamu juga ikutan fanatik”, sambil berlalu begitu saja.

“(Ndak bisa bilang apa-apa lagi)”, sambil ngelus dada

Sepeninggalnya bapak tadi, saya jadi membayangkan Mbak Ika, salah satu kakak tingkat saya semasa kuliah di Kehutanan nyanyi sambil mengangkat tangan ke depan muka, “Ghuroobaaaa!!”. Hehe, maaf Mbak Ika :P

Yah, ini bukan kali yang pertama atau kedua saya berhadapan langsung dengan persepsi seperti itu, tapi berkali-kali entah yang keberapa. Islam fanatik lah. Begini, begitu. Kerudungnya kepanjangan. Aliran sesat. Duh! Pernah suatu hari ditanya begini, “Dek Intan itu sekarang islamnya apa to? Kok jadi rajin ke masjid, tambah aneh aja.”. Tuh kan, dulu jarang ke masjid digosipin, sekarang sering ke masjid dibilang aneh. Jadi serba salah, kan?

Yang ikut sunnah dianggap aneh. Jadi rajin ngaji dibilang fanatik. Jadi, yang aneh itu siapa? Memang kondisi muslim saat ini sudah sangat asing di mata masyarakat. Bukankah dalam keadaan asing islam datang? Jika anda dianggap asing dengan keislaman anda, kemungkinan anda termasuk golongan yang benar. Tapi, untuk hal ini saya belum cukup ilmu untuk membahasnya. Saya mau bahas dua kata menarik yang diucapkan bapak tadi (bagi saya), yaitu islam buku.

Saya tidak tahu dari mana istilah itu muncul, dengar juga baru sekali itu. Namun, yang menarik disini adalah tentang kekuatan sebuah tulisan. Saya pernah mendengar di suatu kajian mahasiswi gitu, ada kisah seorang pemudi yang mengurungkan niatnya bunuh diri setelah membaca bukunya Mbak Asma Nadia. Ada seorang pemuda nakal yang tiba-tiba “sadar” setelah membaca bukunya Ust. Salim A. Fillah, dan kisah-kisah lain yang berawal dari sekedar aktivitas membaca buku. Masya Allah. Bahkan, saya banyak menemui ukhti-ukhti yang kembali sadar untuk menutup aurat setelah membaca artikel tentang hijab di WA, line, instagram, dan medsos lain. Kalau yang ini berarti disebut islam instagram, islam WA, islam line gitu ya? Hehe :P

Saya kenal betul dengan mas-mas yang dimaksud bapak tadi. Dulu memang lumayan nakal ala anak remaja yang anehnya justru dianggap normal dan biasa saja. Remaja sekarang kan gitu ya? Kalau tidak berani “minum”, cemen. Kalau tidak berani merokok, banci. Kalau tidak punya pacar, tidak laku. Kalau tidak ikut tawuran, cupu. Dan kalau kalau lainnya. Ah, saya tidak menyangka mas itu sekarang jadi begitu. Jadi baik melalui aktivitas membaca ^_^

Membaca itu memang candu. Membaca itu memang nikmat. Bagi yang sudah jatuh cinta dengan ilmu, ia tidak akan rela melepaskannya. Siang ini saya sempat berdebat dengan mamak saya. Beliau bilang, saya ini terlalu banyak menghabiskan uang hanya untuk membeli buku, padahal jumlah buku saya masih lah sedikit. Masih jauuuuuuh sekali kalau dibandingkan dengan mereka pecinta ilmu yang tidak pernah patah semangat menuntut ilmu. Namun, alhamdulillah mamak mau mengerti dan mengijinkan saya untuk tetap “merawat” buku-buku itu. Tadinya mau dibuang, huhuhu T.T.


Oke, kembali ke topik. Saya jadi iri dengan para penulis (buku) dan pegiat BC-an sosmed. Berapa jumlah hati yang tergerak setelah membaca artikel yang dia share? Berapa jumlah pahala yang ia kumpulkan karenanya. Ah, aku ingin jadi bagian dari pejuang pena dakwah. Semangat bagi para pejuang pena. Semoga setiap goresanmu menjadi jalan dakwah bagi saudaramu.

Sumber:
http://tokobukuonline.web.id/wp-content/uploads/2015/09/Toko-Buku-Gunung-Agung.jpg

Komentar

Postingan Populer