Emak-Emak Rempong

Bismillah. . . .

Sekumpulan ibu-ibu, mengerumuni tukang sayur keliling, nampak asyik membicarakan sesuatu. Entah topik apa yang mereka angkat saat itu. Sang penjual sayur hanya manggut-manggut tanda menyimak, tanpa berkomentar apa-apa.

Duh, emang dasar emak-emak. Aktivitas ini berjalan hampir setiap hari, ditempat yang sama, cakruk tongkrongan para petugas ronda. Cakruk yang menyaksikan perjalanan para pejuang keamanan desa di gulitanya malam itu disulap menjadi barak emak-emak bergosip ria dari pagi buta hingga siang menjelang.

Ah, nampaknya kebiasaan ini akan terus berjalan. Siapa gerangan yang mau mengubahnya? Apakah aku salah satunya? Kupikir, situasi ini adalah ladang bagi mereka yang menangkapnya demikian. Pasalnya, apa yang dibicarakan cenderung mubadzir dan berpotensi menambah timbangan dosa. Siapa peduli artis anu selingkuh sama si anu? Siapa pula yang mengamati sedemikian jeli seorang janda cantik di pojok kompleks? Nyatanya, hal tersebut adalah topik sehari-hari mereka. Alangkah bahaya jika telah menjadi candu. Anak sekolah jangan-jangan lupa djemput. Lantai rumah mungkin lupa dikilapkan. Makan siang suami apalagi. Sayur saja masih digenggam.


Akankah kau mau berjuang bersamaku? Masuk memeluk ibu-ibu rempong dan mengontrol pembicaraan didalamnya? Mengarahkan pada apa yang lebih mendatangkan ridha-Nya? Setidaknya, telah kita persiapkan jawaban ketika sidang digelar di hadapan Sang Penguasa jaman.

Komentar

Postingan Populer