#Pengencurhat
Huaaaa kangeeeen sama ini blog yang sudah lama kutinggalkan. Memendam banyak sekali hal yang ingin diceritakan, maafkan ya Dek, lama tak menjamahmu. Huhu T.T
#Pengencurhat
So, kali ini aku ingin bercerita bagaimana hiruk pikuk jalanan. Yah, meskipun aku bukan anggota geng motor anak jalanan yang sedang nge-hitz ituuu.
Kalian para mahasiswa atau para pejuang nafkah yang tinggal jauh dari tempat kalian kuliah atau kerja pasti tahu banget apa yang aku rasakan, apalagi jika kalian adalah pengguna motor. Debu jalanan, bising tidak karuan, apalagi kalau ketemu pengendara yang tidak taat aturan.
Lika-liku jalanan. Itu makanan keseharianku. Coba bayangkan, selama 45 menit - 2 jam (kalau macet berat) di jalan tuh mau ngapain sih? Apalagi jomblo. Ngenes banget kan? Mau disambi baca buku ya nggak bisa kan ya? Itu sama saja menggali lubang kubur. Alhasil, kalau nggak bengong yaaa ngapain ya? Ngeliatin orang, pohon, papan jalan, polisi yang sedang bertugas, sampai kecelakaan tepat didepanku pun pernah. Saking seringnya ngeliatin sekeliling, ada satu hikmah menarik nih. Yah, bagiku sih. Bagimu ya entah.
Pagi ini, sepasang sejoli naik motor mesra di depanku. Tepat didepanku. Baper nggak sih. But, bukan itu yang aku mai ceritain. Ini tentang lampu sein. Loh? Baca dulu sampai akhir.
Saking mesra itu pasangan, sampai nggak sadar kalau lampu seinnya tuh nyala. Mulai dari Prambanan sampai Pasar Gejayan aku jalan di belakangnya. Yah, bukan maksud apa-apa sih. Kebetulan saja.
Lama-lama kan gemes yah. Ingin menegur, tapi tuh motor cepet nget. Yaudah, berdoa semoga sang pengendara sadar atau ada orang lain yang mengingatkan.
Ngomong-ngomong tentang lampu sein. Jadi kebayang nih pengalaman selama berkendara, cieh! Dari sekian ratus milyar sampai tidak terhingga jumlah motor yang kutemui selama ini, paling tidak ada 5 - 10 pengguna motor yang lupa sama lampu seinnya. Mungkin ini sepele, tapi ngegemesin nget, beneran. Dari bilangan diatas, aku belum pernah punya kesempatan untuk mengingatkan, tapi ada orang lain yang berbaik hati untuk mengingatkan. Caranya unik dan berbagai macam. Ada yang pakai kode jari, ada yang ngingetin ketika berhenti di bangjo, ada yang langsung teriak, ada yang teriaknya kenceng banget sambil bilang "(nyebut nama hewan), seinmu kui lo Bos!!".
Oke lah. Terlepas dari apapun caranya, aku sangat mengapresiasi karena mereka mau memberi "nasihat",
Soal nasihat nih, ini udah bukan cerita jalanan lagi, tapi agak mirip. Menurutku sih.
Pernah ada ikhwan yang "nasihat"in aku, "Kum, suaranya mbok jangan genit gitu!"
Duuuuh, dibilang genit sama akhi-akhi, keki nggak sih?
Terus ada akhowat yang curhat, "Mbak Inkum, saya tuh sering dikatain, 'Masak pake jilbab gede kelakuannya jorok', Yah kan bukan salah jilbabku Mbaaak. Huhuhu", sampe ngangis gitu.
Terus ada lagi, "Mbak Inkum, masak aku dibiang munafik, pake jilbab gede tapi masih suka nyanyi, ya kan aku lagi proses, Mbaak"
Atau ada yang nyinyir, "Kerudungmu ig, lo!"
Dan curhatan semacamnya.
Duh, Dek. Sesungguhnya mbak juga masih belajar.
Coba saja positif thinking, itu orang-orang yang "ngatain" kalian itu sesungguhnya sedang menyampaikan "nasihat". Sama saja sedang menyampaikan, "Ukhti, kan sudah pakai jilbab besar nih, sesuai syariat. Alhamdulillah, Allah beri anti hidayah dan istiqomah. Alangkah baiknya jika pelan-pelan anti mengimbanginya juga akhlakul karimah, saya pun juga berproses, semoga kita bisa menjada muslimah yang sama-sama baik dan diridhoi Allah"
Jadi, saranku, kalau ada yang bilang gitu lagi, ucap "Alhamdulillah". Allah sematkan nasihat lewat berbagai cara, seperti lampu sein tadi.
-Semangat-

Komentar
Posting Komentar