Hijab Kontrak

Ceritanya mau gabung komunitas menulis gitu deh. Nah, salah satu syaratnya harus menulis cerpen dengan tema hijrahku. Kupikir cerpen fiksi, ternyata. Ini agak lebay sih, haha. Selamat membaca ^_^

Hijab Kontrak
Bismillahirrahmanirrahim

Hari ini, 23 Agustus 2016 aku memakai toga bersama dua ribu sekian mahasiswa. Yap, tanda bahwa kami telah berhasil menyelesaikan studi. Gelar sarjana tersemat indah di belakang nama kami, kebanggaan orang tua. Selempang cumlaude bertengger mesra serasa tak mau lepas. Aih, hari ini.
Upacara pelepasan wisudawan/wati, siapa mahasiswa yang tidak menantikannya? Kurasa tak ada yang mau dikata sebagai mahasiswa abadi, apalagi jika lulus dari perguruan tinggi negeri yang bergengsi.

Meski begitu, aku heran. Mengapa banyak yang menantikan untuk duduk di mari, padahal prosesi ini lama sekali. Membosakan. Oke baik. Sadar! Aku sendiri pun turut disini. Mengapa mau duduk berlama-lama? Tentu alasan setiap orang berbeda. Jika bukan untuk menyenangkan kedua orang tua; mungkin hari ini aku lebih memilih untuk melukis, memotret, atau memancing; aktivitas yang lebih aku sukai.

Ah, aku mendapatkan kursi pada baris paling belakang. Di samping kiriku seorang lelaki ganteng yang aku tidak tahu angkatan berapa, hanya menunduk. Auranya mistis, mengerikan. Sebelah kananku seorang perempuan yang sedari awal kami dibariskan, sibuk memasang bulu mata palsunya. “Mbak, udah Mbak. Gaperlu pakai bulu mata anti badai terowongan casablanca sudah cantik kok”, hanya berhenti di tenggorakan, tidak berani menyuarakan.
Bosan. Kapan ini berakhir?
*
4 tahun yang lalu. . .
23 Agustus 2012, semua mahasiswa baru dari segala jurusan sibuk riuh membeli perlengkapan OSPEK. Ada apa dengan kalian? Ini hanya berlaku 3 hari. “Nggak usah belanja sampai ratusan ribu gitu keleus.”

Entah. Disaat semua bergembira, aku merasa lunglai tak bersemangat. Pagi itu, hari terakhir OSPEK, kami diinstruksikan untuk mengenakan seragam olahraga dari asal sekolah masing-masing beserta atribut tetek bengek-nya, aku hanya mengenakan pakaian seadanya. Celana yang robek pada bagian lutut dan kaos putih yang sudah kehilangan warna dasarnya, mblabur. Berjalan dari kost-an dengan langkah yang “lemah” disaat semua orang berlari.

Hei kamu, SDG18! Kenapa terlambat?!”, teriak mas polisi OSPEK sok tegas sambil menunjuk ke arahku.

Kost saya jauh, saya cuma jalan kaki

Kenapa tidak pakai atribut OSPEK lengkap?”

Saya bergantung pada beasiswa. Nggak ada duit

Kamu itu calon mahasiswa. Kenapa tidak berusaha mencari cara lain untuk mendapatkannya?”

Saya tidak punya saudara disini

Ya cari, bentuk silaturahmi. Selama belajar disini, mereka yang akan menggantikan posisi keluargamu!

Oke. Sudah? Sekarang saya boleh pergi?”

Kakak sok tegas -yang terlihat agak kesal- itu menggiringku pada sekitar 11 orang lain yang tidak memakai atribut lengkap. Kami dibariskan menghadap kearah taman kecil yang ada di belakang gedung perkuliahan PSY1. Diberi nasihat, hukuman ala anak TK, saling berpegangan tangan. Aih, membosankan. Disaat-saat itu, ada satu orang yang menarik perhatianku, ia tak mau berpegangan tangan dengan kedua laki-laki disampingnya. Pandanganku mengarah padanya. Satu-persatu dari kami ditanyai sampai tiba pada orang itu, seorang perempuan yang mengenakan rok berwarna hitam dengan atasan baju kurung sampai ke lutut, warnanya serasi dengan jilbabnya yang menjulur panjang berkibar-kibar, merah maroon. “Buset! ‘krukupan’ gitu apa nggak kesiksa? Kerudungnya panjang amat!”, batinku.

Kenapa tidak mau pegangan tangan?”, si kakak sok tegas mulai mengintrogasi

Karena Allah!”, jawabnya singkat sambil sesekali menunduk.

Kenapa pakai rok?”

Karena Allah”, lagi-lagi jawabnya sama.

Kakak itu hanya diam, dan kami dibubarkan saat itu juga. Wow, disaat semua orang mencari berbagai alasan tidak masuk akal dan mengungkapkan kalimat panjang, jawabannya yang hanya 2 kata mampu menyelamatkan kami dari teriknya matahari.

Beberapa hari setelah OSPEK

Tidak seperti biasanya, hari ini aku merasa begitu bersemangat. Bersemangat membersihkan kamar, bersemangat belajar, bersemangat dalam hal apapun; sejak pertemuanku dengan perempuan berkerudung panjang itu, tatapannya yang sejuk, senyumnya yang manis, bicaranya yang santun memancarkan aura ketulusan. Asyiyah namanya, lengkapnya Asyiyah Jabal Noor. Dia adalah saudara pertamaku di kota ini.
**
7 tahun yang lalu
23 Agustus 2009, kali pertama aku bertandang ke kota ini.  Datang membawa asa, memanggul amanah dari orang tua. Aku menjadi siswi SMA!! Bukan sembarang SMA, sekolah ini adalah yang terbaik di kota ini. Semua orang di kampungku mendambakannya. Beruntunglah aku yang bisa melanjutkan sekolah di jenjang ini.

Aku mendapatkan banyak kawan baru, dikenalkan dengan pernak-pernik cantik ala remaja kota, hingga gadis desa yang polos ini menjadi salah satu bagian dari geng yang paling nge-hitz di SMA ini.

Tahun demi tahun, aku semakin mengenal kegelimangan. Aku memiliki seorang pacar anak orang kaya. Semua kebutuhanku terpenuhi. Di belikannya aku baju, tas, perhiasan yang semuanya tidak bisa dibilang murah. Aku pun semakin terlarut dalam kemewahan, tidak peduli nilaiku turun drastis saat itu.

Aku menjadi remaja cantik yang sudah enggan memakai pakaian ala desa. Tak mau lah aku jika membiarkan tubuhku yang cantik itu tertutup. Paling tidak, semua orang harus melihat mulusnya paha dan pundakku, seksinya bibirku dengan gincu merah merona, dan wajah yang tak akan kubiarkan kering tanpa bedak. Pacarku, Alex kala itu sering mengajakku dan memperkenalkan aku pada kawan-kawannya yang sering nongkrong di klep-klep malam. Aku tidak merasa risih ketika mereka memelukku, mengelus punggungku, hingga mencium pipiku. Begitu setiap malam kulalui, hingga pada suatu hari;
Aku sudah bosan sama kamu!”, aku dengar suara Alex dari gagang telepon

“Apa maksudmu, Lex?”

“Aku mau kita putus. Bulan depan aku akan melanjutkan studi di Amerika, sedangkan aku tak bisa mengajakmu”

Tut... Tut.... Tut

Lex! Alex!

Hatiku remuk. Lelaki itu sudah renggut masa depanku, dia ambil bagian terpenting dalam hidupku, lalu dengan mudahnya dia campakan aku. Aku hanya seorang gadis yang telah kehilangan kegadisannya. Aku ingin menemuinya, meminta tanggung jawab dan janji-janji manisnya, namun seluruh kontaknya tidak bisa dihubungi. Kini aku merasa menjadi orang yang paling hina. Semua orang yang dulu berebut berteman denganku kini pergi, karena aku tidak bisa dimanfaatkan untuk mengerjakaan tugas-tugas mereka lagi. Sejak saat itu aku tidak bisa percaya dengan siapapun. Semua orang sama. Busuk!

Setelah beberapa bulan dalam kondisi keterpurukan, dengan segala daya dan upaya aku berusaha bangkit. Aku gunakan sisa-sisa tenaga dan asa untuk belajar sampai menjelang ujian nasional. Kuberikan kabar pada orang tua bahwa aku baik-baik saja dan aku memutuskan untuk pergi jauh dari kota ini. Akan aku buktikan bahwa aku pun layak melanjutkan studi dan mendapatkan masa depanku yang lebih cerah, Alex!
***
Satu bulan menjelang wisuda
23 Juli 2016. Aku sudah sangat merindukan kampung halamanku. Kini aku membawa kebahagiaan jauh lebih banyak dari kebahagiaan yang kubawa semasa SMA dulu. Kereta berganti bus, lalu berganti angkutan desa, melanjutkan dengan becak. Aku telah sampai di depan rumah

Mak, assalamu’alaikum!”

Wa’alaikummusallam!”, wanita yang setengah baya itu menuju pintu

Mak, saya pulang. Saya sudah mau diwisuda”, sambil menuju kursi bambu yang bertengger di teras rumah, senyumku mengembang.

Alhamdulillah. Emak sama abah bisa ke kota, bisa ikut wisuda”, raut wajah emak memancarkan kebahagian, lalu sejurus kemudian berganti dengan kebingungan.

Pakaianmu sekarang kok seperti itu to, Nduk? Apa ndak sumuk?

Oh, saya sekarang pakai jilbab, Mak. Ini syariat islam. Saya belajar banyak tentang islam yang sesungguhnya di kota. Islam mengajari saya untuk berbakti pada Emak dan Abah, mengajari saya berakhlak mulia, dan memberikan ketenangan pada hati saya, Mak”

“Iya, tapi mbok ya nggak usah ‘keser-keser’ gitu. Nanti dikira tetangga anak emak ini gabung anggota teroris. Orang-orang seperti itu hidupnya ribet, nanti njuk nggak mau ikut tahlilah, nggak mau salaman sama orang, terus kalau ada yang bertamu harus segera dipel, barang yang dipegang orang harus dicuci, katanya najis”

“Mak, islam tidak seperti itu. Percaya, Mak”

“Ya sudah. Mak mengijikan anak emak satu-satunya ini pakai pakaian begitu, tapi cuma sampai lulus kuliah, besok kalau sudah kerja harus pakai kerudung yang biasa-biasa saja”, nampaknya Emak masih enggan.

“Ceritanya kontrak nih, Mak?”

“Ayok makan dulu, Emak masak enak hari ini. Abahmu masih di sawah, sekalian bawakan makan siang untuk Abahmu ya, Nduk”, Emak menuntunku menuju meja makan.

Baik, Mak”

Aku tidak menceritakan keburukan yang kualami selama SMA, sudah cukup bagiku. Emak tidak perlu tahu. Aku hanya berharap Allah kasihani aku, bukakan pintu taubat bagiku, dan meridhai aku.
****
Kepada para wisudawan dan wisudawati diharapkan untuk mempersiapkan diri, barisan ini akan segera dipanggil. Silakan keluar dengan barisan yang rapi!”, Seorang lelaki yang berdiri diujung barisanku memberikan instruksi, aku segera bangkit dari lamunanku. Aku melirik kursi kosong disamping mbak-mbak yang akhirnya memutuskan untuk tidak mengenakan bulu mata palsu. Kursi itu, seharusnya Asyiyah duduk disana. Allah sayang padamu saudariku, Dia telah mengangkat derita sakit yang kau alami selama ini. Terimakasih sudah menjadi sahabat baikku, mengantarkan aku pada gerbang hidayah dan lautan ilmu, semoga Allah lapangkan kuburmu. Yaa Allah, terimakasih. Melaluinya, kau tunjukkan aku jalan ketenangan ini. Islam. Butiran air menetes membentuk alur pada pipi yang tertutupi bedak ini.

Sendang Murni sarjana psikologi lulus dengan predikat cumlaude”, giliranku untuk menerima ijazah dari tangan sang dekan. Disana, di barisan para tamu undangan, Emak dan Abah terlihat begitu bahagia.

Sendang akan berusaha untuk menjadi kebanggan Emak dan Abah. Menjadi air yang menyejukkan bagi yang lain, sesuai dengan nama yang kau berikan padaku, Sendang Murni. Sendang ingin melanjutkan sekolah, Mak. Semoga Allah bukakan pintu hidayah bagi Sendang, Emak dan Abah sebelum masa kontrak jilbab ini berakhir. Dan Sendang ingin tetap mengenakan jilbab ini, Mak. Jilbab ini yang membuat Sendang menjadi lebih tenang, tidak ada yang berani melecehkan Sendang sekarang.


Yaa Allah, hamba pernah terjerumus dalam lumpur dosa yang amat menghinakan. Kini kau beri hamba kemuliaan dengan islam. Hamba mohon kenikmatan ini sampai pada ajal menjemput hamba, matikanlah hamba dalam keadaan berislam secara sempurna.


Alay kan? hehe
Semoga bermanfaat ^^
Boleh dikopi, namun tetap menyertakan sumber :)

Komentar

Postingan Populer