Senyum itu, masya Allah

Bismillah. . .. 


Suka banget mengawali tulisan dengan bismillah. Harapannya semoga Allah ridhoi, semoga tulisanku bermanfaat, bukan sekedar ungkapan emosi atau kemarahan sesaat.

Siang ini. Iya, siang ini banget, tepatnya pukul 11.00 WIB, enggak kurang, enggak lebih, saya mendatangi sebuah rumah sakit di Yogyakarta. Bukan saya yang sakit, alhamdulillah, saya masih dalam keadaan sehat, bugar wal afiyat, tapi saya hendak mendaftar untuk emak saya. Semenjak didiagnosa terkena "syaraf kejepit" 5 kanan, 4 kiri, emak harus diterapi, harus sering-sering berkunjung ke rumah sakit ini. Ada kesempatan untuk berbakti, ambil kan ya? Paling tidak ini yang saat ini bisa saya usahakan untuk emak saya tercinta. Love you, Mak.

Nah, balik ke topik semula, saya dapat antrian nomor 3142. waktu itu masih di angka 2000an. Yaah, nggak papa lah. Bisa ditunggu sambil baca buku. Pagi ini saya ikut kajian terus dapat doorprize buku., alhamdulillah. Saya memilih duduk pada deretan ke-2, pojok, di sebelah bapak-bapak gitu. Niat mengajak ngobrol basa-basi, tapi beliau diam seribu bahasa. Baiklah, memang saya harus membaca.

Antrian terus berjalan. Waktu itu sudah 3000an, saya masih asik membaca buku, dapat satu per empat dari total halaman. Kursi sebelah saya sudah berganti empat kali yang menduduki. Lama-lama bosan, lalu sejenak ketiduran. Alhamdulillah. Jam merembet ke arah pukul 14.10 WIB, belum juga dipanggil. Jadi agak sebal. Lalu datang seorang ibu berumur 65 tahun (nggak sengaja nguping) yang baru datang setengah jam yang lalu, mendapatkan nomor antrian 3160 an.

"Sejak jam berapa Buk?"

"Sudah lama Dek, sejak setengah jam yang lalu", 

Ha? Sejak lama? Dongkol gimana gitu. Saya lo sejak jam 11.00 sampai jam 14.00 nggak dipanggil-panggil

Baru pada pukul 14.15 WIB, saya dapat giliran. Udah penat nunggu, langkah lunglai, mendayakan sekuat tenaga untuk menghampiri petugas. Interaksi saya dengan petugas  nggak sampai 5 menit, tapi masya Allah, inilah kekuatan senyuman, manisnyaa. Disapa, dilayani dengan baik, ditanya keadaannya. Duh Dek. Dongkol saya jadi hilang seketika. Senyum Pak petugas seolah menular ke saya. Hukum kekekalan energi.

Eiits, jangan salah paham lo ya! Petugasnya itu bukan lelaki ganteng dambaan wanita seperti yang di tivi-tivi itu, melainkan bapak-bapak yang sudah berumur. Saya hanya ingin mengungkapkan dahsyatnya senyuman. Yaa, tentu berdasarkan pengalaman pribadi, belum banyak referensi, belum pakai dalil yang kuat, shohih, lagi terpercaya. Saya tekankan ini berdasarkan pengalaman pribadi. Saya belum berani pakai dalil, hehe.

Sekian, semoga bermanfaat :)
Jadi ingat sebuah kalimat yang keluar dari lisan manusia paling terpercaya. Kalimat ini selalu dibaca setiap akan pulang sekolah oleh keponakan saya, Adendra bersama teman-teman sekelasnya,

"Tabassumuka fii wajhi akhiika laka shodaqoh"
Senyummu terhadap wajah saudaramu adalah sedekah

Sudah hafal dengan hadist diatas bukan?

Sumber gambar:
https://muslimah.or.id/wp-content/uploads/2016/05/senyuman.jpg

Komentar

Postingan Populer