Tragedi kalkulator #1 (Penyesalan di pagi hari)

Duduk sendiri, di sebuah ruangan kecil. Salah satu sudut ruangan di Masjid Al-Ihsan Fakultas Kehutanan UGM, sekre KMIK. Pagi ini kutemui sebuah penyesalan. Dan aku mulai berandai. Kebiasaanku yang tak baik memang. Jika saja aku datang 5 menit lebih awal di kampus ini, aku takkan mengecewakan salah satu adikku. Sayang, aku terlambat. Dia sudah berada diruang ujian. Aku tak tahu apakah dia sudah mendapatkan kalkulator atau belum. Mata kuliah ini cukup sulit bagiku. Aku sudah menjanjikan untuk membawakannya kalkulator pagi ini.

Aku berada didepan ruang ujian dalam waktu yang cukup lama. Bodohnya, aku tak menanyakan dia diruang berapa. Kuhubungi nomor hpnya. Tak diangkat. Iya lah Intan, dia sedang ujian. Aku gusar, aku semakin gelisah. Ada 2 ruangan disitu. Kau diruangan yang mana Dik Nurul? Ya Allah, hatiku tak tenang. Aku gelisah. Kuharap dia bisa mengerjakan soal-soal biometrika hutan itu. Ya Allah yang Maha Memudahkan, berikanlah dia kemudahan ya Rabb. Kumohon ya Rassyid.

          Ada Dik Fajar, kutitipkan kalkulator itu padanya. Aku tak tahu lagi harus bagaimana. Semoga saja dia satu ruang dan mengenali Nurul. Semoga. Semoga.

         Dengan membawa perasaan tak karuan ini, segera kuambil wudhu. Semoga Allah berikan kemudahan baginya. Semoga Allah menjaganya. Perasaanku semakin tak karuan sebelum aku memastikan dia bisa. Kutunggu dia sampai rampung dengan berteman kitab kecil ini.

Komentar

Postingan Populer