Entah, aku sudah kritis
Alhamdulillah, usai sudah ujian akhir semester ini. Berakhir dengan mata kuliah Metode Ilmiah, banyak soal keluar tentang Berpikir Kritis, membuat kondisi semakin kritis (uhuk, uhuk)
#ceritanya mriang, abis kehujanan
#ceritanya mriang, abis kehujanan
Hem, aku tidak begitu yakin dengan hasil semester 3 ini. Selama satu semester hanya aku isi dengan bermalas-malasan, bermain, dan menghambur-hamburkan uang. Kalau bisa kuulang waktu, aku ingin kembali ke 1 tahun, 2 tahun, atau bahkan ketika aku dilahirkan. Ah, hanya sebuah khayalan. Iya, khayalan yang terus menggangguku. Melenakan aku dalam dunia yang takkan pernah kugapai. Terus saja melarutkanku, sampai aku lupa. Aku lupa ada dimana, aku lupa sebagai apa, aku lupa bahwa waktu terus saja bergerak. Bergerak dan pergi meninggalkanku. Hah, sudah. Aku jenuh menggalau.
Benar, hidup itu sebuah perjalanan. Aku baru sadar bahwa selama ini mataku tertutup. Aku tak melihat bahwa aku kini sudah dewasa. Selama ini aku hanya bertingkah seolah aku anak kecil. Tak mau keluar dari belaian lembut ibuku. Tak mau turun ke dunia yang penuh lumpur. Aku tak sadar bahwa selama ini aku hanya mutiara yang terkubur. Tak berarti apa-apa.
Aku menyesal. Mungkin banyak yang menyesal sepertiku. Aku tak gunakan waktuku dulu. Aku hanya sibuk mencari kesenangan. Biasa dimanjakan. Yah, dimanjakan.
Aku malu saat pertama kali menapaki tempat ini. Ruang kuliah, lift, kantin, semua teman yang kutemukan disini. Aku malu. Bukan! Lebih tepatnya aku minder. Aku berada diantara orang-orang yang hebat. Parahnya aku tak bisa tertular hebat.
Si x yang selalu dinantikan, si y yang selalu kocak, si s yang selalu nampak bersahaja. Dalam lubuk kosong ini, aku ingin seperti itu. Tapi, apa bangganya jadi orang lain?
Oke, saat ini aku seekor kura-kura di tepi pantai. Barjalan lambat, pelan, tak berdaya. Tapi kau tahu? Aku punya cangkang!
Hah, apa ini. Hanya cerita yang tak berisi. Hanya sekedar bercerita

Komentar
Posting Komentar