Jathilan

Kali ini aku mau cerita nih, tentang salah satu kesenian Jawa. Namanya "Jathilan" atau bahasa kerennya "Kuda Lumping".

Jadi, aku hidup ditengah keluarga seni. Ayahku pernah memainkan lakon wayang wong, pernah jadi niyaga, vokal. Ibuku pernah jadi sinden karawitan Jawa bercorak Jogja. Kedua kakakku anak band dan sekarang lagi seneng-senengnya main jathilan. Aku? Hah, jangan tanya. Liat tontonan aja jarang.

Aku bingung yak. Sebenernya kesenian Jawa yang berbau mistik kayak gituan hukumnya apa sih menurut islam? Ya, aku sih suka-suka aja kalau sekedar nari (terpola) diatas kuda lumping. Tapi kalau udah menyangkut sesajen, ngusir hujan, sampai miras kok aku kurang srek yak?

Jadi aku pernah nanya kan ke Masku, "Mas, nek ndadi ki dipecuti po ra loro? Mangan beling po untune ra pethil?". Dan beliau cukup menjawab "Gatau, lupa".

Aku pun ketika melihat mereka yang dicambuk, makan beling, kembang, dan lain-lain itu masih belum bisa diterima akal. Kalau mereka dirasuki kenapa masih bisa nulis diatas tanah? Misalnya kalau minta lagu, emang tuh setan sering karaokean?

Kadang aku mikir kalau "Mindahin hujan" itu kok kayak nentang Tuhan ya? Mereka yang menamakan diri sebagai "Pawang" dengan percaya diri berkata bahwa setiap tampil hujan dipindah ke lain tempat. Halo! Dipindah? Elu sape? Buktinya kemarin aku nonton hujan tuh, deres. Dan itu kok, entah, nggak mausk akal aja gitu.

Jujur aku nggak begitu suka, tapi emang kesenian kayak gitu juga harus ada sih. Secara itu peninggalan nenek moyang dan bisa jadi identitas Jawa kalau ditempatkan pada posisi sesuai porsinya. Asal nggak syirik aja sih. Nggak ganggu waktu sholat, Nggak bikin rusuh, Nggak neko-neko. Tapi kalau menjauhi itu 'katanya' setan nggak bakal mau dateng buat ngerasukin pemainnya. Nah loh! Malah minta dirasuki. Hah, semoga aku bisa menjaga keluargaku dari maksiat dan segala bentuk syirik. 

Yang aku senang adalah aku bisa merasakan kebahagiaan ayahku yang paling ketika terlibat dalam jathilan itu. Walaupun hanya sekedar nyuciin kostum. Nggak terima jugak sih. Orang tua udah nyediain segala perlengkapan, gamelan, bikinin kostum dan lain-lain kok masih dibebani nyuci kostum. Tapi apalagi? Apa yang kuanggap menyusahkan justru menjadi kesenangan tersendiri bagi ayah. Asal ayah bahagia.

Komentar

Postingan Populer