Untuk apa aku berhijab syar'i?
Itu Sepertinya Bagus! Ah, Tapi yang Ini Lebih
Cocok! Apa yang Itu Aja Ya? Tapi... Tapi...
Senang
rasanya melihat saat ini semakin banyak akhowat yang mengenakan hijab syar’i.
Kerudung lebar berkibar diterpa angin, berpadu padan dengan gamis longgar, tak lupa
penyambung lengan dan penutup kaki. Cantiknya para akhowat ini ^^
**
Sore itu
aku bersama sahabatku yang (semoga) tak bosan membersamaiku bermaksud membuat
kerudung instan untuk KKN, agar tidak terlalu ribet ketika di lapangan.
Sebelumnya, kami membeli kain di tempat yang cukup jauh menurutku. Ada banyak
pilihan warna disana. Dalam hati ingin membuat gamis dengan model begini,
khimar yang begini, dengan asesoris begitu dan begini.
“Merah kayaknya cocok, Ukh!”
“Pink aja
nih, anggun!”
“Yah, nggak cocok sama warna kulitku!”
Begitu
seterusnya sampai tak meyadari bahwa waktu lewat tak mau berhenti. Hampir satu
jam kami habiskan waktu untuk memilih kain. Dasar emak-emak.
Setelah
melakukan transaksi, tibalah kami menemui ibu penjahit untuk minta kain yang
sudah kami beli dijadikan kerudung instan, dengan model begini, panjang segini,
dan bla bla bla.
Saat itu
aku tak mempunyai pakaian syar’i. Sehari-hari hanya mengenakan kaos lengan
panjang, yang penting rapi. Sama sekali tak memikirkan untuk berkreasi dengan penampilan,
tabrak warna sana-sini. Sama sekali tidak. Namun, waktu itu aku berpikir, jika
aku sudah mempunyai kerudung syar’i, pakaian yang kukenakan juga harus syar’i,
warnanya juga harus senada, setidaknya enak dipandang mata. Lama-lama pikiran
ini menerawang jauh.
Nanti, aku mau memperlihatkan pada ibuku,
terus aku mau pakai pakaian syar’iku ke kajian. Buat pelengkap, aku harus beli
tas, sepatu, kaos kaki yang cocok, untuk menunjang penampilan syar’iku. Sama
memperbanyak koleksi buat gonta-ganti. Kan malu kalau pakai pakaian yang sama
sampai berhari-hari.
Tanpa
mempertimbangkan keadaan finansial, tanpa memperhitungkan daftar pengeluaran,
rupiah demi rupiah habis untuk ‘memenuhi kewajiban’. Lama-lama tak peduli
dengan ibadah, tak peduli dengan shodaqoh, tak peduli dengan. . . . .
Hanya
sibuk memikirkan besok mau pakai baju apa, kalau begini cantik tidak ya? Huft.
Tanpa
sadar, pakaian ini tak lagi sebagai bentuk peribadahan, tak lagi untuk memenuhi
kewajiban, tak lagi untuk menundukkan pandangan. Namun, untuk mendapatkan
perhatian manusia, pamer dan berbangga. Lantas, kepada siapa amalanku ini
kupersembahkan? Celakanya.
Sumber gambar pendukung:
https://talk2ha.files.wordpress.com/2014/09/anime-muslim-girl-2973378716.png

Komentar
Posting Komentar