Kok nggak pecah sih?

Pyarrr!! Klontang klontang!!

Sebuah gelas tersampar oleh ujung kerudungku, lantas jatuh berguling-guling dari ketinggian ±60 cm. Gelas itu masih utuh.

“Kok nggak pecah ya, Mbak?”, putri Pak Dukuh, pondokan tempat aku tinggal selama KKN mengungkapkan ketakjubannya. Aku hanya bisa menjawab, “Karena belum ajalnya, Dik”

Berita pentingkah? Memang tidak terlalu penting. Namun, dari peristiwa ini ada sebuah hikmah yang kudapatkan. Tentang ajal.

Mengapa gelas itu tidak pecah? Karena ajalnya belum datang. Bisa saja ketika ajalnya datang, ia pecah dalam genggaman.

Ah. Aku ingat ketika seseorang mengabarkan tentang berita kematian salah satu saudara di fakultas tetangga. Saya tanya kenapa, si pengabar menjawab, “Karena udah takdirnya, Kum.” Saat itu aku tak begitu memahami tentang takdir. Sekarang baru aku dapatkan jawabannya. Ya, takdir.

Mungkin ada diantara kita yang tiba-tiba mendapat kabar kematian seseorang yang baru beberapa menit bermain bersama kita, makan bersama, atau sekedar bertemu. Ya, karena ajalnya datang sesuai jadwal. Ada pula seseorang yang sudah menderita penyakit menahun, namun diberi kesempatan hidup lebih lama dari mereka yang sehat bugar. Kita tak tahu kapan jadwal ajal kita datang.

Memang kita tak tahu kapan, namun kita diberi pilihan untuk mati dalam keadaan beriman atau sebaliknya. Karena kita selayak gelas yang tak tahu kapan dan dengan perantara apa akan pecah.


Catatan masa KKN KP-06 Tuksono

Sumber gambar pendukung:
http://38.media.tumblr.com/0df3809c97810839ac8837924087330d/tumblr_inline_mfss0c1rU41ro5fjw.jpg

Komentar

Postingan Populer