Kerudung


Jum’at itu, 14 Mei 2016. Masih KKN. 
Aku tak ada rencana untuk pulang ke Prambanan. Entah apa, terlalu sering bingung, akhirnya aku pulang. Memandikan Telon dan mengeluarkan Freddy dari kandang, menjemput Dendra ke sekolah, dan mendengar curhatan Mama. Seperti biasa, tak ada yang istimewa.

Meloncat pada hari Senin setelahnya. Seorang gadis kecil bernama Nisa, menjadi anggota baru TPA Nur Hidayah. Meski TPA ini termasuk bagian dari program KKN, aku tak pernah merasa berat untuk menujunya. Mereka adalah pelipur lara, penghilang susah selama ini.

Hari ini adalah terakhir perlombaan TPA. Aku sudah menyiapkan 6 hadiah jauh hari sebelumnya, karena memang santriku hanya 6 orang. Namun, hari ini kedatangan santri baru. Padahal, aku hanya menyiapkan untuk 6 orang.

-Kerudung di meja-
Mungkin inilah kenapa tiba-tiba aku ingin ke Prambanan. Satu kerudung yang tergeletak di meja kamarku, tak sadar aku raih dan kumasukkan ke dalam tas. Satu hadiah tambahan untuk santri baru. Jika saja aku tak ke Prambanan waktu itu. . . .


Oh, Allah, begitu Maha Baik Allah menuntunku berpanas-panasan sampai Prambanan untuk megambil kerudung bagi adik kecil, Nisa.

Sumber gambar:
Dokumentasi by Tabita

Komentar

Postingan Populer