Maka, adakah yang mengambil pelajaran?
Perjalanan
menuju sekolah selama ±40 menit yang hampir setiap hari menjadi rutinitas saya memberikan
pelajaran yang luar biasa banyak. Sepanjang jalan, saya melihat langit yang
setiap hari bentuk awannya berbeda, warnanya berbeda, dan suasana yang berbeda.
Tak jarang saya disuguhi pelangi dengan warna-warna yang tersusun menawan. Masya Allah. Hampir setiap hari saya
menyaksikan lagit yang kokoh tanpa tiang. Disana burung-burung kecil terbang
dan mengajarkan makna tawakal. Semua nampak rapi dan presisi, tidak mungkin
jika tidak ada yang mengatur. Duhai Allah.
Saya
melewati bentangan sawah dan kebun yang indah dipandang. Sawah yang diatasnya
tumbuh berbagai macam sayur, buah, dan pohon berkayu. Ada satu lokasi yang
ketika melewatinya, sengaja saya pelankan laju motor. Ialah nursery, setiap hampir dekat saya berdoa
bahwa kelak saya ingin punya nursery. Anda
yang sedang membaca tulisan ini, tolong bantu saya dengan doa ^^.
Ketika melewati sawah,
kebun, nursery, saya sering iri
melihat para petani -atau apa saja sebutan untuk orang yang beraktivitas dengan
bercocok tanam- yang sedang mencangkul, memupuk, menanam benih, membersihkan
gulma dan hama, serta berbagai perawatan lainnya. Dalam hati, saya berpikir,
betapa banyak pahala yang didapatkan para petani itu. Ketika mereka menanam
dengan ikhlas, betapa banyak pahala shodaqoh
yang mereka terima. Tanaman-tanaman itu berfotosintesis, lalu mengeluarkan
oksigen yang bermanfaat untuk serangga, mamalia, bahkan manusia. Buah-buah dan
biji-bijian yang tumbuh dan berkembang lalu jatuh menjadi shodaqoh untuk burung-burung dan hewan lain. Hasil yang dipanen
bermanfaat untuk keberlangsungan hidup manusia. Biomassa yang ditinggalkan
dapat didekomposisikan oleh hewan-hewan mikro dalam tanah menjadi pupuk yang
menyuburkan, lalu Allah menerima amalan para petani itu. Masyaa Allah. Saya berdoa untuk seluruh orang yang menanam dengan
ikhlas agar Allah limpahkan keberkahan bagi mereka.
Aih… Aih, kebahagiaan demikian pun sempat saya rasakan ketika
menyiram segayung air ke batang tanaman sambil membayangkan betapa banyak
oksigen yang mereka hasilkan, lalu Allah ridha terhadap aktivitas saya.
Sungguh, Allah ciptakan langit
dan bumi beserta isinya dengan begitu rapi, masing-masing punya potensi. Manusia
itu lemah, rawan berbuat dosa, tapi Allah tidak membiarkan kita terus-menerus
berkubang dosa. Allah hadirkan cara untuk berbuat baik. Bukankah kebaikan itu
dapat menghapus keburukan? Allah beri sarana untuk mengenal-Nya dan mendapatkan
ridha-Nya lewat ciptaan-Nya. Maka, adakah
yang mengambil pelajaran?

Komentar
Posting Komentar