Bahagia itu Sederhana

Sore itu, aku berada di Jalan Kaliurang KM 4,5.

“Sedang apa, Dek?”, tanya yang kuajukan pada seorang bocah perempuan. Tangannya terampil menumbuk dedaunan dan mengiris biji-bijian.

“Main masak-masakan”, jawabnya polos nan senyum mengembang.

“Ah iya? Sekarang lagi masak apa?”, aku serasa kembali pada masa kanak-kanakku.

“Masak brongkos, ini kacang ijo (sambil menggenggam daun bayam), kalau ini namanya kacang panjang (sambil menunjuk bunga teh-tehan), terus dimasak”, dengan kepolosan khas bocah

“Kok nggak pakai bumbu?”

Nggak pakai bumbu udah enak. Nih, udah jadi”

“Waaaah, sekarang masak apa lagi?”

“Bikin jamu, caranya dideplok (ditumbuk) seperti ini, terus diperas”, jangan bayangkan ia menumbuk dengan cobek dan semacamnya, alat yang ia gunakan adalah palu.

“Terus dikasih air ya?”

Enggak. Nggak boleh main pakai air”

"Kuncinya sudah jadi, Mbak", Suara tukang kunci mengakhiri perbincangan dengan adik kecil ini, namanya Adik Rifa. Perbincangan 7 menit yang sungguh menyenangkan.

“Sampai jumpa Adik Rifa”


Aih, teringat masa laluku. Bersama teman-teman, hanya dengan batu dan beberapa dedaunan, kami sudah sangat bahagia. Tak ada kelebatan di kepala kami untuk nongkrong, nonton, dan kongkow-kongkow. Bahagia itu sederhana ^^

Sumber gambar pendukung:
http://bahagiaitupenting.com/wp-content/uploads/2016/08/Tips-Ajarkan-Anak-Melatih-dan-Mengembangkan-Bakat-bahagia-itu-penting.jpg

Komentar

Postingan Populer