Taubat
Kalau
sebelumnya saya selalu menuliskan kegalauan dan kesedihan, sekarang saya ingin memotivasi
diri saya agar selalu semangat dalam menjalani kehidupan. Dengan apa caranya?
Takut kepada Allah.
Takut
yang saya maksudkan bukan dalam makna khauf
yang berarti perasaan takut yang menimbulkan keinginan lari, sedih,
gelisah, dan goncang. Takut yang saya bicarakan adalah dalam makna khusyuk, yaitu perasaan takut yang
dibungkus dengan cinta, diiringi dengan mengagungkan Allah, disertai dengan kewibawaan
Allah, diikuti dengan memuliakan-Nya.
Apa
anda bingung? Saya juga.
Baik.
Agar kita sama-sama keluar dari kebingungan ini, mari kita bahas makna takut (khusyuk) kepada Allah.
Kita
takut kepada Allah, bukan seperti orang yang ketakutan lagi cemas, tetapi rasa
takut yang menuntun pada mengagungkan, mengetahui ketetapan Allah, mengetahui kedudukan
Allah, yakin pada ketentuan dan kekuasaan Allah atas makhluk-Nya.
Saya
tidak bermaksud menakut-nakuti siapapun yang membaca tulisan saya. Sama sekali
tidak! Bagaimana mungkin saya menakuti anda dengan mengajak khusyuk kepada Allah yang Maha Agung,
Maha Pengasih lagi Maha Mencintai? Coba resapi firman Allah berikut:
“Dan didekatkanlah surga itu kepada
orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). Inilah
yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) pada setiap hamba yang selalu kembali (kepada
Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya). (Yaitu) orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah sedang Dia tidak
kelihatan (olehnya) dan dia datang dengan hati yang bertaubat.”(Qaf:31-33)
Perhatikanlah
ungkapan terakhir! “orang yang takut kepada Rabb Yang Maha Pemurah”. Kenapa Allah tidak
mengatakan, “orang yang takut pada Rabb yang Maha Perkasa, Maha Kuat, dan Maha Memaksa?”
Perhatikan
redaksi ini! Allah memilih kata “Ar-Rahmaan
(yang Maha Pemurah) menunjukkan pada rahmah
(kasih sayang). Allah menuntun kita pada kasih sayang-Nya melalui jalan taubat.
Saya tidak bermaksud mengajak diri saya dan pembaca untuk takut mati, siksa kubur,
dan azab Allah yang pedih. Karena kematian adalah salah satu mimpi saya (khusnul khatimah tentunya).
Takut
yang saya harapkan adalah takut yang mampu membuat kita untuk selalu mendekatkan
diri pada Allah, selalu kembali pada-Nya dan selalu menghadirkan Dia dalam setiap
aktivitas kita. Karena takut (khusuk)
terhadap Allah menjadikan kita tak kuasa melakukan maksiat.
Kini,
saya mengharapkan rasa takut diatas selalu hadir dalam hatisaya –dan hati para pembaca-.
Bagaimana caranya? Saya menemukan jawabannya dengan mengaitkan rasa takut dengan
hari kiamat. Akan saya bahas pada tulisan selanjutnya. Insya Allah.
Referensi:
Al
Quran
Khalid,
Amru. 2006. Hati Sebening Mata Air.Aqwam:Solo
Sumber gambar:


Komentar
Posting Komentar